Musim karhutla Indonesia 2026 memasuki periode yang cukup serius ketika kemarau berlangsung lebih kering dan titik panas muncul dalam jumlah besar di sejumlah wilayah. Memasuki awal September, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi dua daerah yang mendapat perhatian besar karena konsentrasi hotspot masih tinggi, sementara asap sempat menurunkan kualitas udara serta jarak pandang.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan situasi tahun ini memang lebih berat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Luas kebakaran hutan dan lahan selama Januari hingga Juni 2026 mencapai sekitar 107.465 hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 366 persen dibandingkan periode Januari hingga Juni 2025.
Tekanan semakin terlihat ketika memasuki Juli. Hingga akhir Juli 2026, luas kebakaran tercatat telah mencapai sekitar 202.004 hektare. Sekitar 57 persen berada di kawasan hutan, sementara 43 persen lainnya berada di area penggunaan lain.
Situasi pada Agustus hingga awal September menunjukkan bahwa Indonesia belum keluar dari periode rawan. Meski sejumlah wilayah mulai mencatat penurunan titik panas, konsentrasi kebakaran bergeser kuat menuju Kalimantan.
Kemarau 2026 Lebih Kering dari Kondisi Normal
Kondisi cuaca mempunyai peranan besar dalam peningkatan risiko kebakaran tahun ini. Sejak awal 2026, BMKG telah memperingatkan bahwa musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan kondisi rata rata.
Sekitar 64,5 persen zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal. Artinya, sejumlah besar wilayah mendapatkan curah hujan lebih sedikit dari kondisi biasanya.
Pada akhir Agustus, sekitar 80 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebagian besar mencapai puncak kemarau pada Agustus, sementara beberapa wilayah masih mengalami puncak pada September.
Periode kering panjang membuat vegetasi, semak, tanah mineral, serta kawasan gambut kehilangan kelembapan.
Kondisi tersebut membuat api lebih mudah berkembang ketika muncul sumber pembakaran.
BMKG juga telah memperingatkan potensi El Nino pada semester kedua 2026. Fenomena tersebut berpotensi menekan pembentukan awan hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah.
Pemerintah kini memperkirakan September menjadi salah satu periode paling penting dalam pengendalian karhutla karena pengaruh El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini.
Luas Karhutla Sudah Tembus 200 Ribu Hektare Sejak Juli
Ukuran tingkat keparahan karhutla tidak dapat dilihat hanya berdasarkan jumlah hotspot. Luas wilayah yang benar benar terbakar juga menjadi indikator penting.
Hingga Juli 2026, luas karhutla Indonesia tercatat sekitar 202.004 hektare.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sangat cepat dibandingkan akhir Juni.
Pada periode Januari hingga Juni, luas kebakaran masih sekitar 107.465 hektare. Dengan demikian, peningkatan selama Juli terjadi dalam skala puluhan ribu hektare.
Kondisi tersebut juga menunjukkan betapa cepatnya kebakaran dapat meluas ketika kemarau memasuki fase paling kering.
Sebagian area yang terbakar berada di dalam kawasan hutan.
Hal ini menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya mengenai lahan terbuka, tetapi juga dapat memasuki kawasan yang mempunyai fungsi ekologis penting.
Kebakaran pada kawasan gambut bahkan lebih rumit ditangani karena api dapat bergerak di bawah permukaan tanah.
Petugas mungkin telah memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi bara masih dapat bertahan pada lapisan gambut dan kembali menyala ketika kondisi mendukung.
“Karhutla 2026 tidak bisa dinilai hanya dari asap yang terlihat. Luas kebakaran yang meningkat tajam sejak awal tahun menunjukkan tekanan serius sudah terjadi jauh sebelum puncak kemarau.”
Hotspot Sempat Tembus 1.370 Titik dalam Sehari
Perubahan jumlah hotspot pada awal September memperlihatkan situasi yang sangat dinamis.
Pada 1 September 2026 pukul 21.25 WIB, sistem SiPongi Kementerian Kehutanan mendeteksi 1.370 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional.
Dari jumlah tersebut, Kalimantan Barat mencatat 570 titik dan Kalimantan Tengah sebanyak 488 titik.
Kalimantan Selatan mempunyai 64 titik, sedangkan Sumatera Selatan mencatat 19 titik.
Riau dan Jambi pada saat yang sama tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Jumlah nasional kemudian turun.
Pada 2 September, hotspot tingkat kepercayaan tinggi tercatat sebanyak 805 titik.
Pemantauan pada 3 September menunjukkan penurunan lagi menjadi 688 hotspot.
Penurunan ini menjadi perkembangan positif, tetapi belum dapat diartikan bahwa musim kebakaran telah selesai.
Hotspot sendiri merupakan indikasi anomali suhu permukaan berdasarkan pengamatan satelit.
Satu hotspot tidak selalu berarti satu lokasi kebakaran. Sebaliknya, satu kejadian kebakaran yang luas juga dapat menghasilkan beberapa hotspot.
Karena itu, data satelit tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan lapangan.
Kalimantan Barat Menjadi Salah Satu Wilayah Paling Berat
Perhatian utama pemerintah pada awal September bergerak kuat menuju Kalimantan Barat.
Provinsi ini berkali kali mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Pada 30 Agustus, Kalimantan Barat masih mempunyai 455 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Sehari kemudian jumlahnya kembali meningkat.
Pada 1 September tercatat 570 hotspot tingkat kepercayaan tinggi di wilayah tersebut.
Asap yang muncul juga mengganggu kualitas udara dan jarak pandang.
Di Pontianak, jarak pandang pada 2 September sempat turun hingga sekitar 200 meter pada pagi hari akibat asap tebal.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar.
Asap dapat mengganggu aktivitas transportasi, penerbangan, kegiatan sekolah, pekerjaan luar ruangan, serta kesehatan masyarakat.
Pada 4 September, pemerintah melaporkan kualitas udara mulai menunjukkan perbaikan. Zona sangat tidak sehat telah menyusut dan tersisa terutama pada sebagian kecil Kalimantan Barat.
Kalimantan Tengah Masih Menyimpan Konsentrasi Titik Panas Tinggi
Selain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah menjadi pusat perhatian besar dalam operasi pengendalian.
Pada 25 Agustus, BMKG mencatat lonjakan hotspot tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah dari 113 menjadi 352 titik.
Jumlah tersebut kemudian meningkat hingga 488 hotspot pada pemantauan 1 September.
Sebaran api di Kalimantan Tengah mempunyai tantangan tersendiri karena provinsi tersebut memiliki kawasan gambut luas.
Ketika lapisan gambut mengering, material organik yang tersimpan selama bertahun tahun dapat menjadi bahan bakar.
Api pada gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan.
Pemadaman membutuhkan air dalam volume besar agar penetrasi mencapai lapisan tanah yang masih menyimpan bara.
Jika hanya bagian permukaan yang basah, api dapat muncul kembali beberapa jam atau beberapa hari kemudian.
Karena itu, pekerjaan tim pemadam tidak berhenti setelah nyala api hilang.
Pendinginan lokasi harus dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara yang dapat menghasilkan kebakaran baru.
Sumatera Sempat Menghadapi Tekanan Besar tetapi Mulai Membaik
Situasi di Sumatera menunjukkan pola berbeda dibandingkan Kalimantan pada awal September.
Beberapa wilayah sebelumnya sempat mengalami jumlah hotspot tinggi.
Pada 25 Agustus, Sumatera Selatan tercatat mempunyai 298 hotspot tingkat kepercayaan tinggi sebelum kemudian turun menjadi 63 titik.
Riau juga pernah menjadi wilayah yang mendapat pengawasan ketat sejak awal musim kemarau.
Namun pada 1 dan 2 September, Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Jambi juga sempat mencatat kondisi serupa.
Perbaikan tersebut tidak membuat operasi dihentikan.
Petugas tetap melakukan patroli karena lahan yang sudah mengalami kekeringan dapat kembali terbakar apabila muncul sumber api.
Sumatera Selatan juga tetap menjadi salah satu provinsi prioritas.
BNPB masih melakukan operasi darat dan udara untuk mencegah titik api baru sekaligus mengurangi kemungkinan asap meluas ke wilayah lain.
Asap Karhutla Sempat Menjangkau Banyak Wilayah
Karhutla Indonesia 2026 tidak hanya terkonsentrasi pada satu pulau.
Pada akhir Agustus, BMKG mendeteksi sebaran asap di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, serta beberapa bagian Papua.
Pola angin membuat asap dapat bergerak keluar dari lokasi awal kebakaran.
Inilah yang membuat satu kebakaran dapat menjadi persoalan bagi wilayah yang jaraknya cukup jauh.
Kualitas udara pada beberapa daerah Kalimantan bahkan sempat masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Partikel berukuran sangat kecil menjadi perhatian karena dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.
Pada 4 September, keadaan menunjukkan perbaikan.
Sebagian besar wilayah Indonesia telah berada pada kategori kualitas udara baik hingga sedang.
Namun kategori tidak sehat masih terdapat pada sejumlah bagian Kalimantan serta sebagian kecil Sumatera bagian barat.
Kelompok Rentan Menghadapi Risiko Lebih Besar dari Kabut Asap
Asap karhutla mengandung campuran berbagai partikel serta gas hasil pembakaran.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus kepada anak anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit bawaan.
Kelompok tersebut mempunyai risiko lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk dalam waktu panjang.
Gejala yang dapat muncul antara lain iritasi mata, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, sesak, dan gangguan pernapasan.
Paparan berkepanjangan juga membuat fasilitas kesehatan di wilayah rawan perlu meningkatkan kesiagaan.
Masyarakat pada daerah dengan kualitas udara buruk dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap meningkat.
Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus juga menjadi pilihan ketika seseorang harus berada di luar rumah.
Rumah sebaiknya dijaga agar paparan asap dari luar dapat dikurangi, terutama apabila terdapat bayi, lansia, atau anggota keluarga dengan gangguan pernapasan.
Pemerintah Kerahkan 53 Armada Udara
Skala operasi penanganan memberikan gambaran seberapa serius kondisi karhutla tahun ini.
Pada awal September, pemerintah mengerahkan total 53 armada udara untuk mendukung pengendalian kebakaran pada wilayah prioritas.
Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing.
Sementara 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca.
Water bombing dilakukan terutama pada lokasi yang sulit dicapai petugas dari jalur darat.
Helikopter membawa air kemudian menjatuhkannya secara berulang ke titik yang masih terbakar.
Namun pemadaman udara tidak menggantikan pekerjaan petugas darat.
Tim di lapangan tetap dibutuhkan untuk membuat sekat, memadamkan sisa api, melakukan pendinginan, memeriksa bara, serta memastikan titik yang telah dipadamkan tidak menyala kembali.
Operasi Modifikasi Cuaca digunakan ketika kondisi atmosfer memungkinkan pembentukan hujan.
Ketersediaan awan menjadi salah satu faktor penting karena operasi tersebut tidak dapat dilakukan tanpa kondisi meteorologis yang sesuai.
Ribuan Operasi Pemadaman Sudah Dilakukan Sepanjang 2026
Penanganan karhutla telah berlangsung sejak sebelum puncak kemarau.
Hingga akhir Agustus 2026, tercatat sekitar 4.801 operasi penanganan karhutla dilakukan di berbagai wilayah.
Luas areal yang ditangani dalam operasi tersebut mencapai sekitar 38.829 hektare.
Kegiatan melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya.
Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian api berlangsung hampir setiap hari di banyak lokasi.
Sebagian kebakaran dapat ditangani ketika masih kecil.
Sebagian lainnya membutuhkan operasi panjang karena berada pada kawasan gambut atau daerah sulit dijangkau.
“Penurunan hotspot selama beberapa hari merupakan sinyal baik, tetapi September tetap menjadi periode yang membutuhkan kewaspadaan tinggi karena kondisi tanah dan vegetasi masih sangat kering.”
Kebakaran di Konsesi Perusahaan Mulai Mendapat Sanksi
Pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap kebakaran yang terjadi di areal konsesi.
Pada 25 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan.
Total kebakaran pada areal yang mereka kelola mencapai sekitar 1.511 hektare yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Pengawasan kemudian berlanjut.
Pada 4 September, lima perusahaan lain di Kalimantan Barat kembali mendapat sanksi administratif setelah ditemukan kebakaran pada area konsesi masing masing.
Salah satu areal yang diperiksa mempunyai sekitar 1.275 hektare wilayah terbakar. Area lainnya tercatat sekitar 670 hektare, 326 hektare, dan 247 hektare.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui pemadaman.
Pengawasan terhadap pengelola kawasan menjadi bagian penting karena kebakaran yang berulang membutuhkan tindakan pencegahan di tingkat pemegang izin.
Pembukaan Lahan dengan Api Masih Menjadi Masalah Serius
Cuaca kering memperbesar risiko kebakaran, tetapi sumber api tetap menjadi persoalan utama.
Api dapat berasal dari pembukaan lahan, pembersihan sisa tanaman, pembakaran sampah, puntung rokok, aktivitas perkebunan, maupun kegiatan lain yang tidak dikendalikan.
Dalam kondisi normal, api kecil mungkin dapat dipadamkan dengan cepat.
Situasinya berbeda ketika kelembapan sangat rendah dan angin cukup kuat.
Api dapat bergerak menuju semak, perkebunan, hutan, atau gambut sebelum petugas tiba.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan pembakaran.
Pencegahan menjadi jauh lebih murah dibandingkan memadamkan kebakaran yang sudah meluas.
Satu titik api pada lahan gambut dapat membutuhkan tenaga, air, alat berat, helikopter, serta waktu pemadaman yang panjang.
Musim Karhutla Belum Bisa Disebut Selesai pada Awal September
Penurunan hotspot dari 1.370 titik pada 1 September menjadi 688 titik pada 3 September memberikan perkembangan yang lebih baik.
Kualitas udara juga mulai membaik di sejumlah daerah.
Namun kondisi tersebut terjadi ketika Indonesia masih berada dalam periode kemarau.
Sejumlah daerah bahkan baru memasuki puncak musim kering pada September.
El Nino yang diperkirakan mencapai puncak pada periode ini juga membuat kemungkinan berkurangnya curah hujan tetap menjadi perhatian.
Tanah serta vegetasi yang sudah kehilangan banyak kelembapan membutuhkan waktu untuk kembali basah.
Hujan sesaat juga belum tentu cukup untuk menghilangkan risiko kebakaran pada lahan gambut yang sudah mengering cukup dalam.
Karena itu, operasi darat, patroli udara, water bombing, pemantauan satelit, dan modifikasi cuaca masih dijalankan pada wilayah prioritas.
Kalimantan Masih Menjadi Titik Pengawasan Utama September 2026
Pergerakan hotspot pada pekan pertama September membuat Kalimantan menjadi wilayah dengan pengawasan paling ketat.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih menjadi pusat operasi, sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur tetap diawasi karena mempunyai riwayat titik panas selama periode kemarau.
Situasi berbeda terlihat di Riau dan Jambi yang telah mencatat periode tanpa hotspot tingkat kepercayaan tinggi.
Namun keberhasilan tersebut masih perlu dipertahankan selama hujan belum kembali stabil.
Patroli darat dilakukan untuk menemukan asap lebih cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran luas.
Pemantauan dari udara digunakan untuk memeriksa wilayah yang sulit dicapai kendaraan.
Sementara satelit membantu petugas menentukan daerah yang perlu segera diperiksa.
Dengan September masih menjadi salah satu bulan paling rawan pada musim karhutla Indonesia 2026, konsentrasi operasi kini diarahkan untuk menahan kemunculan api baru di Kalimantan sekaligus menjaga kondisi Sumatera agar tidak kembali mengalami peningkatan hotspot seperti pada periode sebelumnya.


Comment