Turunnya Perintah Sholat, Perjalanan Isra Mi’raj hingga Lima Waktu
Home / Islami / Turunnya Perintah Sholat, Perjalanan Isra Mi’raj hingga Lima Waktu

Turunnya Perintah Sholat, Perjalanan Isra Mi’raj hingga Lima Waktu

Turunnya perintah sholat lima waktu menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Kewajiban tersebut diterima Nabi Muhammad SAW ketika menjalani Isra Mi’raj, perjalanan luar biasa yang membawa beliau dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan menuju lapisan langit atas kehendak Allah SWT.

Peristiwa itu mempunyai kedudukan khusus karena kewajiban sholat lima waktu diterima Rasulullah SAW dalam perjalanan Mi’raj. Berbeda dengan banyak ajaran lain yang disampaikan melalui Malaikat Jibril, riwayat Isra Mi’raj menjelaskan Nabi Muhammad SAW menerima perintah tersebut ketika diangkat menuju langit.

Pada mulanya, umat Nabi Muhammad SAW diperintahkan menunaikan 50 sholat dalam sehari semalam. Setelah beberapa kali Rasulullah SAW kembali memohon keringanan, jumlahnya menjadi lima waktu. Meski jumlah pelaksanaannya lima, pahala yang dijanjikan tetap senilai 50 sholat.

Perintah Sholat Berkaitan Erat dengan Peristiwa Isra Mi’raj

Pembahasan mengenai turunnya perintah sholat tidak dapat dipisahkan dari Isra Mi’raj. Al Quran menyebut perjalanan malam Rasulullah SAW dalam Surah Al Isra ayat 1, ketika Allah memperjalankan hamba Nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.

Isra merupakan perjalanan dari Makkah menuju Masjidil Aqsa. Mi’raj merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju langit yang dijelaskan lebih terperinci melalui hadis hadis sahih.

Batas Aurat Wanita dalam Islam, Ini Ketentuan di Depan Mahram dan Nonmahram

Isra Dimulai dari Masjidil Haram

Rasulullah SAW diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.

Perjalanan ini merupakan mukjizat yang berada di luar kemampuan perjalanan manusia pada masa tersebut. Jarak antara Makkah dan kawasan Masjidil Aqsa sangat jauh jika ditempuh menggunakan sarana perjalanan yang tersedia ketika itu.

Al Quran membuka Surah Al Isra dengan penyebutan peristiwa tersebut sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

Masjidil Aqsa juga memiliki posisi penting dalam sejarah para nabi. Wilayah tersebut berkaitan dengan perjalanan banyak nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Dalam berbagai riwayat mengenai Isra Mi’raj, Rasulullah SAW juga bertemu para nabi dalam rangkaian perjalanan tersebut.

Perang Uhud, Pertempuran Besar yang Menguji Keteguhan Kaum Muslimin

Mi’raj Membawa Rasulullah SAW Menuju Lapisan Langit

Setelah perjalanan Isra, rangkaian berikutnya adalah Mi’raj. Rasulullah SAW dibawa naik melewati lapisan langit dan bertemu sejumlah nabi.

Hadis sahih memberikan keterangan cukup terperinci mengenai pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi dalam perjalanan tersebut.

Rasulullah Bertemu Para Nabi

Pada langit pertama, Rasulullah SAW bertemu Nabi Adam AS.

Perjalanan kemudian berlanjut dan beliau bertemu Nabi Isa AS serta Nabi Yahya AS. Pada tingkatan berikutnya, Rasulullah SAW bertemu Nabi Yusuf AS, Nabi Idris AS, Nabi Harun AS, Nabi Musa AS dan Nabi Ibrahim AS.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Mi’raj yang diriwayatkan dalam hadis.

Khadijah, Istri Pertama Nabi Muhammad SAW dan Penopang Awal Islam

Nabi Musa AS kemudian mempunyai peran sangat penting dalam rangkaian penerimaan perintah sholat.

Ketika Nabi Muhammad SAW turun setelah menerima kewajiban sholat, Nabi Musa AS menanyakan jumlah ibadah yang diperintahkan kepada umat beliau.

Dari percakapan itulah terjadi beberapa kali permohonan keringanan.

“Keistimewaan perintah sholat terlihat dari cara kewajiban tersebut diterima Rasulullah SAW. Sholat lima waktu ditempatkan sebagai ibadah yang terus menyertai kehidupan seorang Muslim dari pagi hingga malam.”

Awalnya Umat Islam Diperintahkan Sholat 50 Kali

Riwayat sahih menyebutkan kewajiban yang pertama kali diterima Nabi Muhammad SAW berjumlah 50 sholat dalam sehari semalam.

Jumlah tersebut tentu sangat besar jika dibandingkan kewajiban yang dijalankan umat Islam sekarang.

Rasulullah SAW kemudian turun dan bertemu Nabi Musa AS.

Nabi Musa Menyarankan Meminta Keringanan

Nabi Musa AS bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai kewajiban yang diberikan kepada umatnya.

Ketika Rasulullah SAW menjawab 50 sholat, Nabi Musa AS menyarankan beliau kembali memohon keringanan kepada Allah SWT.

Nabi Musa AS memiliki pengalaman panjang membimbing Bani Israil. Berdasarkan pengalaman tersebut, ia mengetahui beratnya menjaga ketaatan umat dalam menjalankan kewajiban.

Rasulullah SAW kemudian kembali memohon keringanan.

Jumlah sholat dikurangi.

Rasulullah SAW kembali bertemu Nabi Musa AS dan kembali mendapat saran untuk memohon pengurangan.

Proses tersebut berlangsung beberapa kali sampai kewajiban akhirnya ditetapkan menjadi lima sholat sehari semalam.

Lima Sholat Tetap Bernilai Seperti 50

Pengurangan jumlah kewajiban tidak menghilangkan besarnya pahala yang diberikan Allah SWT.

Hadis sahih menjelaskan lima sholat tersebut dinilai sepuluh kali lipat sehingga nilainya mencapai 50.

Ketentuan ini menunjukkan besarnya kemurahan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah Tidak Kembali Meminta Pengurangan

Setelah jumlahnya menjadi lima, Nabi Musa AS kembali menyarankan Rasulullah SAW memohon keringanan.

Namun Rasulullah SAW tidak kembali meminta pengurangan.

Dalam riwayat sahih disebutkan beliau merasa malu untuk kembali memohon kepada Allah SWT setelah beberapa kali mendapatkan keringanan.

Akhirnya lima sholat itulah yang menjadi kewajiban umat Islam hingga sekarang.

Lima waktu tersebut terdiri atas Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya.

Masing masing memiliki waktu pelaksanaan serta jumlah rakaat yang berbeda.

Sholat Sebenarnya Sudah Dikenal Sebelum Isra Mi’raj

Ada satu hal yang sering menimbulkan salah pengertian ketika membahas turunnya perintah sholat.

Sebagian orang mengira Rasulullah SAW dan para Muslim awal sama sekali belum mengenal sholat sebelum Isra Mi’raj. Padahal ibadah sholat sudah dikenal sebelum kewajiban lima waktu ditetapkan.

Al Quran periode Makkah juga memiliki ayat yang menyebut aktivitas sholat.

Isra Mi’raj Menetapkan Kewajiban Lima Waktu

Hal yang diterima Rasulullah SAW melalui Mi’raj adalah kewajiban sholat lima waktu sehari semalam sebagaimana kemudian menjadi kewajiban umat Islam.

Sebelum itu, Rasulullah SAW telah melakukan ibadah kepada Allah SWT.

Para ulama membahas bentuk serta waktu sholat sebelum kewajiban lima waktu dengan penjelasan yang beragam.

Karena itu, penyebutan bahwa sholat baru pertama kali dikenal setelah Isra Mi’raj kurang tepat.

Yang mempunyai dasar sangat kuat dari hadis sahih adalah bahwa kewajiban lima sholat sehari semalam ditetapkan dalam peristiwa Mi’raj.

Subuh Menjadi Sholat Pembuka dalam Satu Hari

Sholat Subuh memiliki dua rakaat dan dilaksanakan sejak terbit fajar sampai sebelum matahari terbit.

Waktunya berada ketika aktivitas sebagian besar masyarakat baru akan dimulai.

Bagi umat Islam, Subuh menjadi kewajiban pertama yang dijalankan pada awal hari.

Zuhur Dilaksanakan Setelah Matahari Tergelincir

Setelah Subuh, terdapat sholat Zuhur sebanyak empat rakaat.

Waktunya dimulai setelah matahari tergelincir dari posisi tengah langit sampai masuk waktu Asar sesuai ketentuan fikih.

Setelah itu umat Islam menjalankan sholat Asar sebanyak empat rakaat.

Asar hadir pada bagian akhir aktivitas siang sebelum matahari terbenam.

Ketika matahari sudah tenggelam, waktu Magrib tiba. Sholat Magrib terdiri atas tiga rakaat.

Kewajiban dalam satu hari kemudian dilengkapi dengan Isya sebanyak empat rakaat.

Pembagian waktu tersebut membuat sholat hadir pada beberapa bagian kehidupan manusia selama satu hari penuh.

Sholat Menempati Kedudukan Tinggi dalam Ajaran Islam

Sholat lima waktu merupakan salah satu rukun Islam dan wajib dijalankan Muslim yang telah memenuhi syarat kewajiban.

Ibadah tersebut tidak hanya dilakukan pada hari tertentu atau ketika seseorang sedang berada di masjid.

Kewajibannya hadir setiap hari.

Kewajiban Tetap Ada dalam Berbagai Keadaan

Syariat memberikan berbagai ketentuan bagi orang yang sedang mengalami keadaan khusus.

Musafir memperoleh ketentuan mengenai jamak dan qasar sesuai syaratnya.

Orang yang sakit juga tetap menjalankan sholat berdasarkan kemampuan. Jika tidak mampu berdiri, terdapat ketentuan untuk melaksanakannya dengan posisi lain sesuai keadaan.

Ketentuan tersebut memperlihatkan bahwa sholat tetap dijaga sekalipun seseorang mengalami keterbatasan tertentu.

Islam memberikan kemudahan dalam cara pelaksanaan tanpa menjadikan kewajiban tersebut mudah ditinggalkan.

Lima Waktu Mengatur Hubungan Ibadah Sepanjang Hari

Jadwal sholat tersebar sejak sebelum matahari terbit sampai malam.

Susunan waktu ini membuat seorang Muslim mempunyai titik berhenti dari berbagai aktivitas untuk kembali beribadah kepada Allah SWT.

Kesibukan pekerjaan, perdagangan, pendidikan maupun urusan lainnya tidak menghapus kewajiban tersebut.

Waktu Sholat Mengikuti Pergerakan Matahari

Secara tradisional, waktu sholat ditentukan melalui tanda yang berkaitan dengan posisi matahari.

Subuh berkaitan dengan terbitnya fajar. Zuhur dimulai setelah matahari tergelincir. Asar mempunyai ketentuan berdasarkan panjang bayangan. Magrib dimulai saat matahari terbenam, sementara Isya berkaitan dengan hilangnya cahaya senja sesuai penjelasan fikih.

Perkembangan ilmu falak kemudian memungkinkan jadwal sholat dihitung dengan tingkat ketelitian tinggi.

Karena posisi matahari berbeda berdasarkan wilayah, jadwal sholat antara satu kota dengan kota lainnya tidak selalu sama.

Umat Islam di Indonesia karena itu mengikuti jadwal sesuai lokasi masing masing.

“Lima waktu membuat sholat tidak ditempatkan hanya sebagai kegiatan sesekali. Ibadah tersebut hadir berulang dalam satu hari sehingga hubungan seorang hamba dengan Allah terus dijaga.”

Peristiwa Isra Mi’raj Terjadi pada Periode Makkah

Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah SAW masih berada dalam periode dakwah di Makkah sebelum Hijrah menuju Madinah.

Namun menentukan tanggal persis terjadinya peristiwa tersebut bukan perkara sederhana.

Ada beberapa pendapat dalam literatur sejarah Islam mengenai tahun maupun bulan terjadinya Isra Mi’raj.

Tanggal 27 Rajab Sangat Populer di Masyarakat

Di Indonesia, Isra Mi’raj secara luas diperingati pada 27 Rajab.

Tanggal tersebut telah menjadi bagian yang sangat dikenal masyarakat dan digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Masjid, sekolah, pesantren serta berbagai lembaga sering mengadakan pengajian untuk mengingat perjalanan Rasulullah SAW dan kewajiban sholat.

Namun dari sisi catatan sejarah, para ulama tidak mempunyai kesepakatan mutlak bahwa Isra Mi’raj pasti berlangsung pada 27 Rajab.

Karena itu, penyebutan tanggal tersebut sebaiknya dibedakan antara tradisi peringatan dengan kepastian waktu kejadian sejarah.

Perbedaan mengenai tanggal tidak mengubah keyakinan terhadap terjadinya Isra Mi’raj dan kewajiban sholat lima waktu yang didukung riwayat sahih.

Perintah Sholat Menjadi Bagian yang Terus Dijalankan Umat Islam

Lebih dari empat belas abad setelah masa Rasulullah SAW, sholat lima waktu tetap menjadi aktivitas utama umat Islam di berbagai belahan dunia.

Tidak ada perbedaan jumlah kewajiban harian antara Muslim yang hidup di Arab, Indonesia, Afrika, Eropa maupun wilayah lainnya.

Lima waktu yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Mi’raj tetap dijalankan dengan urutan yang sama.

Azan Mengingatkan Datangnya Waktu Sholat

Ketika waktunya tiba, azan dikumandangkan sebagai panggilan untuk melaksanakan sholat.

Di Indonesia, suara azan menjadi bagian yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Muslim.

Setiap pergantian waktu sholat juga menunjukkan hubungan langsung dengan perintah yang diterima Rasulullah SAW dalam perjalanan Mi’raj.

Perjalanan yang bermula dari Masjidil Haram, dilanjutkan menuju Masjidil Aqsa dan kemudian menuju langit itu akhirnya menghadirkan kewajiban yang dilakukan umat Islam setiap hari.

Awalnya berjumlah 50, kemudian mendapat keringanan menjadi lima, tetapi nilai pahalanya tetap seperti 50 sholat.

Karena itu, pembahasan mengenai turunnya perintah sholat tidak hanya berhenti pada kisah perjalanan Isra Mi’raj. Bagian terpentingnya terlihat setiap kali seorang Muslim memenuhi panggilan azan, mengambil wudhu, menghadap kiblat dan menunaikan Subuh, Zuhur, Asar, Magrib serta Isya sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *