Istri pertama Nabi Muhammad SAW adalah Khadijah binti Khuwailid RA, seorang perempuan terpandang dari suku Quraisy yang dikenal sebagai saudagar sukses di Makkah. Kedudukannya dalam sejarah Islam tidak hanya berkaitan dengan status sebagai istri Rasulullah SAW, tetapi juga dengan keteguhan hati, kecerdasan, serta dukungannya ketika ajaran Islam baru disampaikan secara terbatas.
Menjadi orang pertama yang membenarkan kenabian Muhammad SAW setelah turunnya wahyu di Gua Hira. Ia tidak menunjukkan keraguan ketika suaminya pulang dalam keadaan takut dan meminta diselimuti. Khadijah justru menenangkan, menguatkan, lalu membawa Rasulullah SAW menemui Waraqah bin Naufal untuk memahami peristiwa yang baru dialami. Riwayat mengenai kejadian tersebut tercatat dalam Sahih al Bukhari.
Khadijah Berasal dari Keluarga Terhormat Quraisy
Memiliki nama lengkap Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza. Ia berasal dari Bani Asad, salah satu keluarga dalam suku Quraisy. Ayahnya, Khuwailid bin Asad, dikenal sebagai tokoh terpandang di Makkah, sedangkan keluarganya mempunyai kedudukan kuat dalam kehidupan sosial dan perdagangan.
Makkah pada masa itu merupakan kota perdagangan yang ramai. Letaknya berada di jalur perjalanan kafilah yang menghubungkan wilayah selatan dan utara Jazirah Arab. Para pedagang membawa berbagai barang dari Yaman, Syam, serta daerah lain untuk diperjualbelikan di pasar Makkah.
Di lingkungan tersebut, tumbuh menjadi perempuan yang memahami kegiatan usaha. Ia memiliki kekayaan dan mengelola perdagangan dengan melibatkan sejumlah orang untuk membawa barang dalam perjalanan kafilah. Sumber sejarah menggambarkannya sebagai saudagar kaya yang mempunyai jaringan perdagangan luas dan kedudukan terhormat di kalangan Quraisy.
Dikenal dengan sebutan At Tahirah, yang merujuk pada kehormatan dan kebersihan pribadinya. Sebutan tersebut memperlihatkan bahwa ia dihargai bukan hanya karena kekayaan, tetapi juga karena perilaku serta reputasinya di tengah masyarakat Makkah.
Pertemuan Melalui Kegiatan Perdagangan
Sebelum menikah, Nabi Muhammad SAW telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Masyarakat memberinya gelar Al Amin. Reputasi tersebut membuat Khadijah mempercayakan barang dagangannya untuk dibawa dalam perjalanan menuju wilayah Syam.
Dalam sistem perdagangan saat itu, pemilik modal dapat menunjuk seseorang untuk menjalankan usaha dengan pembagian keuntungan yang telah disepakati. Nabi Muhammad SAW menjalankan amanah tersebut secara baik dan membawa hasil perdagangan yang memuaskan.
Riwayat sirah yang banyak disampaikan menyebutkan bahwa Khadijah menerima laporan mengenai kejujuran, kecakapan, serta perilaku Muhammad selama perjalanan. Penilaian itu semakin menguatkan ketertarikannya kepada sosok yang kemudian menjadi Rasul terakhir.
Hubungan antara keduanya tidak dibangun semata karena keuntungan perdagangan. Melihat kejujuran dan kemuliaan akhlak sebagai dasar utama. Muhammad SAW juga menghormati Khadijah sebagai perempuan terhormat yang memiliki kecerdasan dan kemandirian.
Pernikahan yang Berlangsung Sebelum Kenabian
Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah ketika berusia sekitar 25 tahun. Pernikahan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar tahun 595 M, kurang lebih 15 tahun sebelum wahyu pertama turun di Gua Hira.
Riwayat yang paling populer menyatakan bahwa Khadijah berusia 40 tahun ketika menikah. Namun, catatan sejarah mengenai usianya tidak sepenuhnya seragam. Sejumlah riwayat menyebut usia yang lebih muda, sedangkan penelitian terhadap sumber sejarah awal menunjukkan bahwa angka 40 tahun menjadi pendapat yang paling luas dikenal. Karena tidak terdapat catatan kelahiran yang setara dengan administrasi modern, perbedaan tersebut masih dibahas oleh peneliti sejarah Islam.
Perbedaan pendapat mengenai usia tidak mengubah kedudukan Khadijah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Keduanya membangun rumah tangga selama hampir seperempat abad. Sepanjang Khadijah masih hidup, Rasulullah SAW tidak menikahi perempuan lain.
Rumah tangga tersebut berlangsung dalam suasana saling menghormati. Memberikan ketenangan, sedangkan Muhammad SAW menunjukkan kesetiaan dan penghargaan yang terus dikenang bahkan setelah istrinya wafat.
“Menurut penulis, hubungan Khadijah dan Nabi Muhammad SAW memperlihatkan bahwa kepercayaan, kejujuran, dan penghormatan merupakan fondasi kuat dalam kehidupan rumah tangga.”
Khadijah Menjadi Ibu bagi Anak Anak Rasulullah
Dari pernikahan dengan Khadijah, Nabi Muhammad SAW dikaruniai sejumlah anak. Riwayat yang paling banyak diterima menyebut dua putra dan empat putri, yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Qasim merupakan anak laki laki pertama. Karena itu, Nabi Muhammad SAW dikenal pula dengan kunyah Abul Qasim. Qasim meninggal ketika masih kecil. Abdullah juga wafat pada usia kanak kanak. Dalam beberapa sumber, Abdullah disebut pula dengan nama At Tayyib atau At Tahir, sedangkan sumber lain membahas nama tersebut secara berbeda.
Empat putri mereka tumbuh hingga dewasa. Zainab merupakan putri tertua, kemudian Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Seluruh putri Rasulullah SAW dikenal memeluk Islam dan menjalani berbagai ujian bersama keluarga mereka.
Fatimah kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut lahir Hasan dan Husain, dua cucu Rasulullah SAW yang mempunyai kedudukan besar dalam sejarah umat Islam. Para penulis sejarah umumnya menyebut bahwa seluruh anak Nabi Muhammad SAW, kecuali Ibrahim, lahir dari Khadijah.
Mendampingi Muhammad Sebelum Turunnya Wahyu
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW sering menjauh dari keramaian Makkah untuk beribadah dan merenung di Gua Hira. Tempat tersebut berada di Jabal Nur dan membutuhkan perjalanan dari kediamannya.
Memahami kebiasaan suaminya. Ia tidak menghalangi keinginan Muhammad SAW untuk mengasingkan diri selama beberapa waktu. Ia menyiapkan perbekalan, menjaga rumah, serta memberikan ruang agar suaminya dapat menjalankan kegiatan tersebut dengan tenang.
Dukungan seperti itu menunjukkan kedalaman hubungan mereka. Tidak memandang perjalanan ke Hira sebagai bentuk pengabaian terhadap rumah tangga. Ia memahami bahwa Muhammad SAW merasa gelisah melihat kebiasaan masyarakat Makkah yang menyembah berhala, melakukan ketidakadilan, dan membiarkan kelompok lemah kehilangan perlindungan.
Mengenal pribadi suaminya jauh sebelum kenabian diumumkan. Pengetahuan itulah yang kemudian menjadi dasar keyakinannya ketika Muhammad SAW pulang setelah menerima wahyu pertama.
Menenangkan Rasulullah Setelah Pertemuan dengan Jibril
Peristiwa paling terkenal dalam perjalanan hidup Khadijah terjadi setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Ketika berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang dan memerintahkannya membaca. Rasulullah SAW pulang dalam keadaan gemetar dan meminta Khadijah menyelimutinya.
Setelah ketakutannya mereda, beliau menceritakan apa yang terjadi. Nabi Muhammad SAW menyampaikan kekhawatiran terhadap dirinya. Khadijah tidak ikut panik. Ia menjawab dengan menyebut sifat baik suaminya, seperti menjaga hubungan keluarga, menolong orang yang kesulitan, memuliakan tamu, membantu orang miskin, dan membela mereka yang menghadapi kesusahan.
Meyakini bahwa Allah tidak akan menghinakan seseorang yang mempunyai sifat tersebut. Sikapnya memperlihatkan ketenangan, kemampuan menilai keadaan, dan keyakinan terhadap akhlak suaminya.
Ia kemudian membawa Nabi Muhammad SAW menemui Waraqah bin Naufal, kerabatnya yang mengetahui kitab terdahulu. Setelah mendengar cerita Rasulullah SAW, Waraqah menyatakan bahwa sosok yang datang adalah pembawa wahyu yang juga pernah datang kepada para nabi sebelumnya.
Orang Pertama yang Membenarkan Kenabian
Dikenal sebagai orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Ia membenarkan wahyu yang diterima suaminya tanpa meminta bukti berupa kekayaan, kekuasaan, atau kedudukan.
Keimanannya lahir dari pengenalan mendalam terhadap kepribadian Muhammad SAW. Selama bertahun tahun hidup bersama, Khadijah tidak pernah melihat suaminya berdusta kepada manusia. Karena itu, ia juga tidak menganggap Muhammad SAW akan berdusta dengan mengatasnamakan Allah.
Pada tahap awal penyebaran Islam, jumlah orang yang beriman masih sangat sedikit. Dakwah dilakukan secara terbatas karena penolakan para pemimpin Quraisy mulai terlihat. Dalam keadaan tersebut, Khadijah menjadi orang terdekat yang memberikan keyakinan dan rasa aman.
Kedudukannya sebagai perempuan terpandang juga memberi perlindungan sosial tertentu bagi rumah tangga Nabi. Meskipun perlindungan kesukuan utama berasal dari Abu Thalib dan Bani Hasyim, kehadiran Khadijah menambah kekuatan dari sisi keluarga dan ekonomi.
Harta Khadijah Digunakan untuk Membantu Perjuangan Islam
Tidak memisahkan keimanan dari pengorbanan. Kekayaan yang dimilikinya digunakan untuk membantu kebutuhan rumah tangga Nabi Muhammad SAW serta mendukung kaum Muslim yang menghadapi tekanan.
Pada tahun tahun pertama dakwah, pengikut Islam berasal dari latar belakang berbeda. Sebagian memiliki perlindungan keluarga, tetapi sebagian lain merupakan budak, pekerja, atau orang miskin yang mudah menjadi sasaran kekerasan.
Menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk memberi bantuan. Dukungan tersebut memungkinkan Rasulullah SAW lebih leluasa menyampaikan ajaran Islam tanpa terlalu dibebani kebutuhan perdagangan sehari hari.
Ketika tekanan Quraisy meningkat, keluarga Nabi dan Bani Hasyim juga pernah mengalami pemboikotan. Hubungan dagang dan pernikahan dengan mereka dibatasi. Masa tersebut berlangsung berat karena akses makanan serta kebutuhan pokok berkurang. Khadijah tetap berada bersama suaminya dalam keadaan sulit, meskipun sebelumnya hidup sebagai saudagar berkecukupan.
“Menurut penulis, pengorbanan Khadijah memperlihatkan bahwa kekayaan memperoleh nilai luhur ketika digunakan untuk melindungi manusia, menegakkan kebenaran, dan membantu orang yang sedang tertekan.”
Mendapat Salam dan Kabar Gembira melalui Jibril
Keistimewaan Khadijah tercatat dalam sejumlah hadis sahih. Salah satu riwayat menyebut Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW ketika Khadijah sedang membawa wadah berisi makanan atau minuman.
Jibril meminta Rasulullah SAW menyampaikan salam kepada Khadijah dari Allah dan darinya. Khadijah juga menerima kabar gembira mengenai sebuah rumah di surga yang tidak memiliki kebisingan serta kelelahan.
Riwayat tersebut tercantum dalam Sahih al Bukhari nomor 3820. Kabar gembira itu menunjukkan tingginya kedudukan Khadijah dalam ajaran Islam. Ia memperoleh penghormatan bukan karena keturunan atau kekayaan, melainkan karena keimanan, kesetiaan, dan pengabdiannya.
Hadis lain menempatkan Khadijah sebagai salah satu perempuan terbaik. Nabi Muhammad SAW menyebut Maryam binti Imran sebagai perempuan terbaik pada zamannya dan Khadijah sebagai perempuan terbaik pada zamannya.
Kesetiaan Rasulullah Tidak Berakhir Setelah Khadijah Wafat
Wafat sekitar tahun 619 M, beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Tahun wafatnya Khadijah juga berdekatan dengan wafatnya Abu Thalib, paman yang memberikan perlindungan kesukuan kepada Rasulullah SAW.
Kepergian dua orang terdekat tersebut membuat periode itu dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Nabi Muhammad SAW kehilangan istri yang menjadi tempat berbagi dan paman yang melindunginya dari serangan terbuka kaum Quraisy.
Rasa cinta Rasulullah SAW kepada Khadijah tetap terlihat setelah beliau menikah dengan istri istri berikutnya. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi sering menyebut Khadijah. Ketika menyembelih hewan, beliau juga mengirimkan sebagian daging kepada sahabat sahabat lama Khadijah.
Pada kesempatan lain, suara Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, membuat Rasulullah SAW teringat kepada istrinya. Ingatan tersebut menunjukkan bahwa hubungan mereka meninggalkan kesan sangat dalam dalam kehidupan beliau.
Kedudukan Khadijah sebagai Ummul Mukminin
Termasuk Ummul Mukminin, yaitu ibu orang orang beriman. Sebutan tersebut diberikan kepada para istri Nabi Muhammad SAW dan menunjukkan kedudukan mereka yang harus dihormati oleh umat Islam.
Sebagai istri pertama, Khadijah menempati posisi khusus. Ia menjalani rumah tangga bersama Muhammad SAW sebelum kenabian, menyaksikan turunnya wahyu pertama, menerima Islam tanpa keraguan, dan mendampingi dakwah selama masa paling sulit di Makkah.
Tidak sempat menyaksikan hijrah ke Madinah, berdirinya masyarakat Muslim yang lebih kuat, atau meluasnya ajaran Islam ke berbagai wilayah. Namun, sumbangannya telah diberikan pada tahap ketika dukungan sangat terbatas dan penolakan terasa kuat.
Perannya juga memperlihatkan bahwa perempuan mempunyai tempat penting dalam sejarah Islam. Khadijah hadir sebagai saudagar, istri, ibu, penasihat, pelindung, serta orang pertama yang membenarkan kenabian Rasulullah SAW.
Keteladanan Khadijah dalam Kehidupan Keluarga
Kehidupan Khadijah memberikan pelajaran mengenai hubungan suami istri yang dibangun melalui rasa percaya. Ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi kegelisahan, Khadijah tidak meremehkan atau menyalahkannya. Ia mendengarkan, menenangkan, dan membantu mencari orang yang memiliki pengetahuan.
Ia juga tidak menggunakan kekayaan untuk menempatkan dirinya lebih tinggi daripada suami. Sebaliknya, harta tersebut dikelola sebagai sarana membantu keluarga dan perjuangan Islam.
Dalam pengasuhan anak, Khadijah menghadapi kehilangan dua putra ketika masih kecil. Ia tetap menjalankan perannya sebagai ibu bagi empat putri yang kemudian mengalami berbagai ujian dalam perjalanan awal Islam.
Hubungan Rasulullah SAW dengan anak anak Khadijah tetap erat setelah istrinya wafat. Fatimah bahkan dikenal sebagai putri yang sangat dicintai Nabi dan mempunyai banyak kemiripan dengan beliau dalam sikap serta tutur kata.
Nama Khadijah Terus Disebut dalam Sejarah Islam
Dihormati oleh umat Islam dari berbagai generasi. Namanya dipelajari dalam sirah Nabi, kajian hadis, pendidikan keluarga, serta pembahasan mengenai tokoh perempuan dalam Islam.
Penghormatan tersebut tidak hanya diberikan karena ia merupakan istri Rasulullah SAW. Khadijah dihargai karena mengambil keputusan besar ketika belum banyak orang bersedia mempercayai Muhammad SAW. Ia menggunakan kedudukan, tenaga, hati, dan hartanya untuk mendampingi penyampaian ajaran Islam.
Nama Khadijah juga tetap hidup melalui keturunannya. Dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, lahir Hasan dan Husain. Keturunan Rasulullah SAW kemudian berkembang melalui jalur tersebut dan menjadi bagian penting dalam perjalanan masyarakat Muslim.
Kisahnya memperlihatkan seorang perempuan yang mampu mengelola perdagangan, menjaga kehormatan, membangun keluarga, serta menunjukkan keberanian ketika orang orang di sekelilingnya menolak ajaran yang dibawa suaminya. Berada di sisi Nabi Muhammad SAW sejak rumah tangga mereka dibangun hingga berakhirnya periode sulit pemboikotan di Makkah.


Comment