Di tengah lautan massa buruh dan pekerja yang memadati kawasan Monumen Nasional Jakarta pada peringatan Hari Buruh Internasional, sosok driver ojol wanita may day menjadi perhatian tersendiri. Mereka datang bukan hanya untuk mengantar penumpang atau mengantar makanan, tetapi juga membawa keluh kesah tentang potongan 40 persen yang dirasa makin mencekik penghasilan harian mereka. Di sela orasi dan bunyi peluit, cerita mereka mengalir pelan namun tajam, menggambarkan realitas kerja di balik jaket hijau dan helm yang selama ini hanya tampak sekilas di jalanan.
Suara Driver Ojol Wanita May Day di Tengah Lautan Massa
Di area sekitar Monas, rombongan driver ojol wanita may day terlihat berkumpul dalam kelompok kecil. Sebagian masih memegang ponsel, memantau order yang mungkin masuk, sementara yang lain duduk di trotoar, melepas penat setelah mengarungi kemacetan sejak pagi. Mereka datang dengan tujuan ganda, tetap bekerja namun juga ingin menunjukkan bahwa mereka bagian dari pekerja yang menuntut keadilan.
Seorang pengemudi perempuan bercerita bagaimana potongan 40 persen dari aplikasi membuatnya harus bekerja lebih lama untuk membawa pulang uang yang layak. Dari tarif yang sudah ditekan promosi dan perang harga, porsi yang sampai ke kantong pengemudi makin tipis. Mereka mengaku tidak menolak sistem, tetapi mempertanyakan keadilan pembagian hasil yang dinilai tidak seimbang dengan risiko di jalan.
Dalam kerumunan itu, obrolan bergeser dari tarif dan bonus ke soal keamanan dan perlindungan. Banyak driver ojol wanita mengakui mereka sering menghadapi situasi rawan, mulai dari pelecehan verbal hingga ancaman di jalan, namun belum ada perlindungan memadai. Suara mereka menyatu dengan tuntutan buruh formal, meski status mereka kerap digolongkan sebagai mitra, bukan pekerja.
Potongan 40 Persen dan Realitas Penghasilan Harian
Cerita mengenai potongan 40 persen menjadi tema yang berulang ketika berbicara dengan para pengemudi perempuan di lapangan. Dalam skema yang mereka jalani, setiap order yang masuk sudah langsung terpotong oleh sistem aplikasi. Jika tarif perjalanan Rp 20.000, maka sekitar Rp 8.000 hilang sebagai komisi perusahaan. Sisa yang mereka terima masih harus dibagi lagi untuk bensin, parkir, pulsa, dan biaya perawatan motor.
Banyak di antara mereka mengaku bahwa penghasilan bersih per hari kerap tidak seindah promosi yang beredar di media sosial. Untuk bisa membawa pulang Rp 100.000 bersih, mereka harus bekerja lebih dari delapan jam, sering kali sampai larut malam. Jika kondisi jalan macet atau order sepi, target itu sulit tercapai. Belum lagi jika ada pembatalan sepihak dari penumpang atau masalah teknis di aplikasi.
Beberapa driver juga menyinggung perubahan skema insentif yang kian ketat. Bonus yang dulu bisa diandalkan untuk menutupi kekurangan, kini makin sulit diraih karena target order dinaikkan dan syarat diperketat. Mereka merasa posisi tawar pengemudi makin lemah, sementara perusahaan platform tetap bisa mengatur skema sesuai kebijakan internal tanpa banyak ruang dialog.
> “Kami dibilang mitra, tapi semua aturan ditentukan sepihak. Potongan besar, risiko di jalan kami yang tanggung sendiri. Kalau protes, dibilang bisa keluar kapan saja.”
Dalam situasi seperti ini, peringatan Hari Buruh di Monas menjadi momentum simbolis bagi driver ojol wanita untuk menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam. Mereka berharap kehadiran mereka di tengah aksi buruh bisa membuka mata publik bahwa di balik kemudahan aplikasi, ada tenaga kerja yang tetap rentan.
Peran Ganda Driver Ojol Wanita May Day di Jalan dan di Rumah
Di balik seragam dan helm yang seragam, driver ojol wanita may day membawa cerita peran ganda yang jarang terlihat. Banyak dari mereka adalah ibu rumah tangga, janda, atau tulang punggung keluarga yang memikul tanggung jawab ekonomi sekaligus domestik. Pagi hari mereka mengurus anak, menyiapkan sarapan, lalu bergegas menyalakan aplikasi demi mengejar order pertama.
Seorang pengemudi perempuan mengaku memilih menjadi driver ojol karena fleksibilitas waktu yang dijanjikan. Namun dalam praktiknya, fleksibilitas itu berubah menjadi tuntutan untuk selalu siap menerima order kapan saja, terutama di jam sibuk. Jika terlalu sering menolak order, akun bisa terkena sanksi. Kondisi ini membuat mereka sulit benar benar mengatur waktu sendiri, apalagi bila di rumah juga harus mengurus orang tua atau anak kecil.
Di sisi lain, ada kebanggaan tersendiri ketika mereka mampu membiayai sekolah anak atau membantu ekonomi keluarga dari hasil menarik motor. Mereka menolak dianggap lemah hanya karena perempuan. Namun mereka juga menuntut pengakuan bahwa kerja mereka sama beratnya dengan pengemudi laki laki, bahkan kadang lebih berat karena harus menghadapi stereotip dan perlakuan merendahkan di jalan.
Cerita tentang bagaimana mereka mengatur waktu antara menjemput penumpang dan menjemput anak dari sekolah menjadi gambaran konkret betapa rumitnya keseharian mereka. Meski demikian, banyak yang tetap bertahan karena belum melihat alternatif pekerjaan lain yang bisa memberikan pemasukan harian tunai seperti ini.
Monas Sebagai Panggung Keluh Kesah dan Harapan
Kawasan Monas pada peringatan Hari Buruh kali ini tidak hanya menjadi panggung bagi orasi serikat pekerja. Bagi driver ojol wanita may day, tempat ini juga menjadi ruang untuk saling bertemu, berbagi cerita, dan mengukur sejauh mana suara mereka terdengar. Di sela sela kerumunan, terlihat spanduk dan poster yang menyinggung soal keadilan bagi pekerja sektor digital dan gig economy.
Momen berkumpul di satu titik ini jarang terjadi, karena biasanya para pengemudi sibuk berpencar mengejar order. Di Monas, mereka bisa melihat bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan masalah individu, melainkan bagian dari persoalan struktural yang dialami banyak pekerja informal dan pekerja aplikasi. Hal ini memberi mereka sedikit rasa solidaritas, bahwa mereka tidak sendirian.
Di beberapa sudut, perwakilan komunitas driver berbicara mengenai perlunya regulasi yang lebih jelas untuk melindungi pengemudi, terutama perempuan. Isu seperti asuransi kecelakaan yang memadai, mekanisme pengaduan pelecehan, hingga batasan potongan aplikasi menjadi bahan diskusi serius. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melihat mereka sebagai pelengkap moda transportasi, tetapi sebagai kelompok pekerja yang butuh payung perlindungan.
> “Kalau negara bisa mengatur tarif tol dan BBM, seharusnya juga bisa mengatur batas potongan aplikasi. Kami ini bukan angka di dashboard, kami manusia yang hidup dari tiap rupiah yang tersisa.”
Monas pada hari itu menjadi saksi bagaimana pekerja dari berbagai sektor, termasuk pengemudi ojol perempuan, menautkan nasib dalam satu ruang yang sama. Meski tuntutan mereka beragam, benang merahnya tetap soal keadilan penghasilan dan perlindungan kerja.
Strategi Bertahan di Tengah Potongan dan Biaya Hidup Naik
Di tengah keluhan mengenai potongan 40 persen, driver ojol wanita may day juga menunjukkan berbagai cara bertahan yang mereka kembangkan sendiri. Sebagian memilih beroperasi di jam jam tertentu yang dianggap paling ramai, seperti pagi hari saat orang berangkat kerja dan sore hingga malam saat jam pulang kantor. Mereka menghafal titik titik keramaian, pusat kuliner, dan kawasan perkantoran untuk memaksimalkan peluang mendapatkan order beruntun.
Ada pula yang bergabung dalam komunitas kecil untuk saling berbagi informasi, mulai dari kabar tarif, perubahan aturan aplikasi, hingga tips menghindari titik rawan kejahatan. Komunitas ini sering kali menjadi tempat curhat dan dukungan emosional, terutama ketika menghadapi penumpang yang tidak menyenangkan atau saat mengalami kecelakaan kecil di jalan.
Beberapa pengemudi perempuan juga mencoba menambah pemasukan dengan cara lain, misalnya menjual camilan atau minuman ringan kepada penumpang, atau memanfaatkan waktu senggang untuk berdagang online. Namun semua itu tetap bergantung pada waktu dan tenaga yang tersisa setelah seharian di jalan.
Meskipun banyak yang mengeluh, tidak sedikit pula yang mengakui bahwa pekerjaan ini memberi mereka ruang untuk tetap mandiri secara finansial. Mereka hanya berharap skema kerja bisa dibuat lebih manusiawi, dengan potongan yang lebih wajar dan perlindungan yang lebih jelas. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus naik, mereka merasa sudah saatnya suara pengemudi, terutama perempuan, benar benar didengar dalam setiap kebijakan yang menyangkut sektor transportasi online.
May Day dan Tuntutan Pengakuan Pekerja Aplikasi
Peringatan Hari Buruh yang selama ini identik dengan pabrik dan kantor, kini perlahan meluas mencakup pekerja pekerja di sektor digital. Kehadiran driver ojol wanita may day di Monas menjadi simbol bahwa definisi pekerja telah berubah. Mereka bekerja mengikuti algoritma, bergantung pada rating dan sistem aplikasi, namun tetap berhadapan dengan persoalan klasik: upah, jam kerja, dan perlindungan.
Dalam berbagai orasi yang terdengar di sekitar Monas, isu pekerja aplikasi mulai masuk ke dalam daftar tuntutan. Ada dorongan agar pemerintah mengakui status mereka secara lebih tegas, bukan sekadar mitra yang seolah tidak berhak atas jaminan sosial dan perlindungan ketenagakerjaan. Pengemudi perempuan khususnya menyoroti pentingnya mekanisme perlindungan dari kekerasan dan pelecehan, baik dari penumpang maupun dari pihak lain di jalan.
Bagi banyak driver perempuan, May Day bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah momen untuk menegaskan bahwa mereka bagian dari tulang punggung mobilitas kota. Tanpa mereka, banyak warga yang kesulitan berangkat kerja, mengantar anak, atau mengirim barang. Namun peran penting ini belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan yang mengatur kehidupan kerja mereka sehari hari.
Dengan membawa cerita tentang potongan 40 persen, jam kerja panjang, dan risiko di jalan, mereka berharap ada perubahan yang nyata. Bukan hanya janji manis promosi aplikasi, tetapi langkah konkret yang membuat kerja mereka lebih layak. Di tengah hiruk pikuk Monas pada Hari Buruh, suara suara itu mengalun, mungkin belum terlalu nyaring, tetapi cukup jelas untuk didengar siapa saja yang mau memperhatikan.


Comment