Jakarta

Lagi, Komnas PA Bongkar Kasus Eksploitasi Seksual Komersial Dibawah Umur

Terbit Tanggal 5 Desember 2020 oleh Media iGlobalNews

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dan Waldi Irawan, SH dari Kantor Hukum Teguh Pribianto Widodo dan Rekan dan Dhanang Sasongko Sekjen Komnas Perlindungan Anak dan La Latifah Komisioner Komnas Anak saat memberikan Ketetangan Pers Sabtu 05/12.

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum dan Jajaran pengurus Komnas Perlindungan Anak saat memberikan ketetangan Pers, Sabtu (05/12/2020).

JAKARTA, IGLOBALNEWS.CO.ID – Kasus eksploitasi seksual komersial dan perbudakan seksual yang dilakukan ibunya terhadap anak kandungnya kembali terulang lagi di wilayah hukum DKI Jakarta.

Kali ini menimpa seorang anak sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) 11 tahun. Bunga yang masih lugu ini dijual dan dijadikan budak seks oleh ibu kandungnya sendiri kepada seorang pengguna tiktok dan diduga berperan juga sebagai Paranormal.

Kasus ini bermula dari perkenalan ibunya kepada seorang pengguna tiktok RN (42) tahun saat berlangsung permainan tik tok RN melihat ada seorang anak dalam unggahan tiktok kemudian RM meminta HS ibu Bunga (korban,red) memperkenalkan dirinya dengan korban dan diminta untuk datang ke salah satu apartemen A di Jakarta Selatan.

Modus yang ibunya lakukan terhadap Bunga adalah melakukan serangkaian bujukrayu, kebohongan, janji-janji dan tipu muslihat dan mendoktrin Bunga bahwa Bunga sudah ditunangkan kepada RN, dengan demikian Bunga wajib melayani kebutuhan seksual yang diminta RN setiap kali RN terangsang secara seksual terhadap Bunga. Di situlah praktek perbudakan seks terhadap anak terjadi.

Ketika Bunga melayani perbudakan seks itu, peristiwa itu adalah sepengetahuan Ibunya dan dan pelaku secara sadar bahwa korban mengetahui adalah anak yang masih berusia 11 tahun dan belum tahu arti seksual. Peristiwa Perbudakan seksual ini adalah perbuatan pelanggaran hak anak abnormal.

Tidak bisa dibayangkan dan tidak dapat diterima oleh akal sehat, dalam sehari Bunga dipaksa melayani hubungan seksual tiga kali dalam sehari dalam berbagai bentuk pose. Saat adegan seksual yang menjijikkan itu, ibunya menunggu di samping kamar tempat kejadian.

Baca Juga  Kivlan Zen dan Habil Marati Ditahan Jaksa Penuntut Umum Kejari Jakpus

Sementara itu, setiap kali Bunga diantar ibunya ke apartemen RN untuk melayani kebutuhan seksual pelaku, menurut keterangan Bunga, ibunya selalu menerima segepok uang yang diperkirakan memiliki nominalnya mencapai 3 sampai 4 juta rupiah.

Tidak kuat menahan sakit atas eksploitasi seksual yang difasilitasi oleh ibunya, kemudian Korban bercerita atas derita yang dialaminya itu kepada ayah dan ibu tirinnya.

Mendengar cerita Korban yang memilukan itu, kemudian didampingi Waldi Irawan, SH dari kantor Hukum Teguh Fitrianto Widodo, SH dan Rekan ayah dan ibu CL membuat laporan pengaduan kepada Polda Metro Jaya dan ke kantor Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).

Setelah dilakukan pengaduan ke Polda Metro Jaya dan Komnas PA, saat ini Ibu korban HS dan RN pelaku perbudakan seksual itu telah ditangkap dan di ditahan di Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan.

Berdasarkan bukti-bukti permulaan dan bukti petunjuk serta terpenuhinya unsur-unsur pidananya, Komnas PA dan kantor hukum Teguh Fitrianto Widodo, SH dari Kantor Hukum dan Rekan meminta Polda Metro Jaya untuk menerapkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor : 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu Nomor : 01 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, junto Undang-undang Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor : 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak serta Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tahun 2007 dengan ancaman 20 tahun penjara dan atau pidana penjara seumur hidup demikian juga terhadap ibunya yang telah dengan sengaka dan sadar memfasilitasi dan mengeksploitasi CL dapat diancam pidana penjara paling singkat 5 tahun.

Disamping itu, mengingat Ibu korban ikut serta menjual anak secara seksual kepada pelaku maka hukuman terhadap ibu korban dapat ditambahkan sepertiga dari pidana pokoknya, sehingga ibu Korban HS terancam 15 tahun pidana penjara dan atau denda 5 milyar rupiah.

Baca Juga  Lanjutkan Reformasi Hukum,Pemerintah Evaluasi 41 Ribu Regulasi Yang Tidak Jelas

Mengingat korban terus diteror untuk mencabut pengaduannya di Polda Metro Jaya oleh keluarga ibunya, Kondisi korban saat ini tergoncang secara Phisilogis dan membutuhkan pendampingan psikologis dan layanan medis. Untuk memberikan rasa nyaman bagi korban bersama ayahnya, ayah dan korban korban saat ini di tempatkan disalah satu Save house di Jakarta.

Mengingat Kodisi Korban belum stabil dan sering melamun, Komnas PA akan membentuk Tim Advokasi dan Litigasi untuk Rehabilitasi sosial anak guna memberikan layanan dampingan psikososial tetapy, ungkap Arist Merdeka Sirait Ketua Umum dan Dhanang Sasongko Sekjen Komnas PA dalam keterangan Pers yang di Kantornya, Sabtu (5/12/2020).

Hadir dalam Siaran Pers da ekspose atas kasus Eksploitasi Seksual Komersial dan perbudakan Seksual yang diderita CL ini, Lia Latifah salah seorang Dewan Komisioner Perlindungan Anak dan Waldi Irawan, SH dari kantor Teguh Pibrianto Widodo, SH dan rekan.

Penulis : Nero.

print

New Note 1

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Facebook

To Top