Sulawesi Tengah

Hutang Pemda Tolitoli ke Kontraktor Capai Rp 16 Miliar

on

Foto: Kepala BKD Tolitoli, Asrul Bantilan.

Foto: Kepala BKD Tolitoli, Asrul Bantilan.

TOLITOLI, IGLOBALNEWS.CO.ID – Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah (Sulteng) terus berhutang kepada rekanan, kontraktor sejak tahun 2016 hingga 2019.

Seperti diungkapkan oleh Ketua DPRD Tolitoli, Moh Randi Syaputra, ia mengatakan, “Total hutang BKD Tolitoli sebesar Rp16 Miliar yang hingga kini belum dilunasi.”

Ditemui di rumah jabatannya belum lama ini, pria yang akrab disapa Randi ini mengatakan bahwa penyebab BKD terus berutang lantaran mungkin ditukar-tukar, dalam artian tutup lubang gali lubang.

“Itu uang untuk satu tahun kan sudah ada di kas. Mestinya kan setiap kegiatan langsung bayar. Nah, mungkin uang gaji dipakai bayar kontraktor, uang kontraktor sudah tapake (terpakai, red) untuk belanja lain,” ujarnya.

Ketua DPRD membenarkan uang di Kas BKD itu dikelola dengan tidak semestinya, ditukar-tukar. Tujuannya, memperkaya diri sendiri. Dicontohkan, kontraktor yang beri setoran pasti tagihannya dicairkan, yang tidak setor pasti ditahan, sampai akhirnya kacau balau.

“Besar curiga dana itu dorang (mereka, red) tukar-tukar. Buktinya, ketika kontraktor lain mau lakukan pencairan, tidak dilayani. Tetapi, ada kontraktor tertentu justru dicairkan, berarti kan ini uang dorang putar-putar di dalam. Tugas kau (BKD, red) di situ kelola kas daerah, bukan cari uang di situ,” tembak ketua partai Ka’bah PPP Tolitoli itu.

Ditanya berapa total piutang kontraktor, putra mantan Wakil Bupati Tolitoli itu mengatakan, “Kemarin kita bahas itu utangnya pemda ke kontraktor, sejak tahun 2016 sampai 2019 sebesar Rp 16 M.”

Terhadap ini, kita akan buka dan tanya semua, terang Randi, kenapa ini barang (tabiat nunggak) begini terus dari tahun ke tahun.

“Ya, tentunya nanti di pembahasan APBD awal 2021 kita tanyakan ihwal semua ini. Kita tunggu dulu semua teman-teman pulang, biar enak. kita rapat internal dulu, baru kita masuk ke pembahasan, dengan harapan bisa satu suara dan kompak di dalam,” ujarnya.

Baca Juga  Peringati Hari Dongeng, Alfamidi Touwa Gelar Acara

Tapi sebetulnya, sambung Randi, setiap pembahasan di agenda berbeda, kita sudah tekankan dan buat komitmen untuk tidak boleh lagi ada hutang-hutang seperti ini.

Foto: Ketua DPRD Tolitoli, Randi mengamuk saat RDP dengan BKD.

Foto: Ketua DPRD Tolitoli, Randi mengamuk saat RDP dengan BKD.

Terakhir pada RDP bulan lalu, pihak BKD sudah menyanggupi selesaikan tahun ini uang kontraktor Rp 16 miliar itu.

“Pokoknya di 2021 kita tidak mau lagi ada utang, apa itu soal gaji bulanan, gaji 13, ADD, DD, apa lagi kegiatan fisik yang dikerjakan teman-teman kontraktor,” pesannya.

Diceritakan politisi muda partai islam itu, setiap pihaknya mengundang OPD (Organisasi Perangkat Daerah) untuk hadir menjelaskan masalah di lapangan, mereka selalu tidak siap, sukanya dimarah-marah, karena datang tidak bawa data, sampai akhirnya terjadi insiden antara dia dan bos BKD, Moh. Asrul Bantilan seperti sudah dikabarkan sejumlah media.

“Kau sudah tau agendanya dalam undangan RDP (Rapat Dengar Pendapat,red) ini, masa dua hari sebelumnya kau tidak siapkan apa-apa. Begitu ditanya, kau bilang tidak bawa. Dikasih waktu satu jam kau pulang ambil data, begitu sudah mau dibahas, eee dia (OPD,red) tetap tidak bawa bahan dengan alasan belum diketiklah, oh anu pak, begini pak. Masuk akalkah begitu, bobrok manajemennya,” tutur Randi mengkisahkan.

Akumulasi dari kebobrokan manajemen BKD ini, ketua DPRD Tolitoli mengatakan sebagian wakil rakyat di DPR curiga telah terjadi perilaku koruptif dalam tata kelola Kas Pemda Tolitoli.

Saat dilakukan upaya untuk konfirmasi ke kepala BKD Tolitoli, Asrul Bantilan yang juga merangkap jabatan sebagai Sekda selalu gagal untuk dihubungi baik melalui SMS maupun aplikasi perpesanan WA. (tim)

print

About Media iGlobalNews

Media online iGlobalNews adalah media informasi dan inspirasi. Media iGlobalNews mengabarkan berita secara cepat, tepat, terpercaya dan memberikan sajian secara aktual, tajam dan kredibel.

Recommended for you