Sulawesi Tengah

Pendekatan Persuasif dan Mediasi Telah Dilakukan, IMIP Sangat Sayangkan Aksi Unjuk Rasa

Ket poto : Askurullah saat di konfirmasi awam media ( mewakili Mangement IMIP )

Photo Askurullah saat di konfirmasi awam media mewakili Mangement IMIP.

MOROWALI, IGLOBALNEWS.CO.ID – Ratusan Buruh kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang tergabung dalam Aliansi Buruh dan Rakyat Bersati berunjukrasa pada Rabu, (5/8/2020) di depan kantor IMIP Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah.

Aksi tersebut merupakan imbas covid-19 atas dirumahkannya sekitar 1.609 orang buruh dan belum mendapatkan kejelasan hingga saat ini kapan akan dipanggil bekerja kembali.

Sembilan tuntutan buruh yang disuarakan saat aksi unjuk rasa yaitu :
1. Pekerjakan kembali Buruh yang Dirumahkan
2.Berikan Hak Cuti Buruh.
3.Stop Segala bentuk Diskriminasi antara TKA dan Tenaga kerja lokal.
4. Tolak Peraturan Perusahaan yang akan Merugikan Buruh.
5. Hentikan Mutasi Sepihak.
6. Hapuskan Aturan-aturan Siluman.
7. Hilangkan 3 Shift 3 Regu.
8. Perbanyak Pintu Jalur Keluar-Masuk Karyawan untuk meminimalisir kemacetan dan kecelakaan dan Tingkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan dan penyesuaikan Tanggal SKS.

Askurullah mewakili management PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyebutkan, sangat menyangkan serikat aksi unjuk rasa yang dilakukan aerikat kawasan IMIP.

Dari awal tim HRD telah melakukan pendekatan secara persuasif dan mediasi.

Dari pertama propoganda yang disampaikan serikat, maka tim HRD telah melakukan mediasi dengan mengundang enam serikat yang ada di kawasan IMIP.

Saat HRD menyampaikan bahwa kita masih dalam kondisi yang terbatas, maka ada serikat yang menerima dengan alasan itu.

Dalam pertemuam tersebut, Poin pentingnya adalah mereka meminta buruh yang jumlahnya sekitar 1.600 orang yang berstatus dirumahkan untuk dipanggil bekerja kembali dan meminta kran hak cuti dibuka.

Sebenarnya keinginan mereka kita bisa terima, namun karena terkendala dengan tehknis yang memang berbenturan dengan aturan covid-19, tentu kita tidak mau mempertaruhkan karena itu sangat beresiko.

Baca Juga  Warga Asal Pamona Selatan Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri

Padahal kalau kita mau hitung hitungan secara sederhana, mereka yang dirumahkan itu kan diberikan gaji sementara dia tidak bekerja. Sebenarnya kita tidak mau juga, tetapi ini pun berproses dan tidak serta merta ini dilakukan secara instant, katanya.

Tapi apa yang dilakukan oleh serikat itulah kebebasan berpendapat dan tetap di hargai.

Namun kami sayangkan karena beberapa kali HRD mencoba untuk berkomunikasi dengan serikat, namun tidak diindahkan dan pada prinsipnya bahwa ada hal yang tidak bijak untuk dilihat karena kita sudah membuka ruang untuk berdialog sehingga kami sangat menyayangkan tetapi kami tetap komitmen untuk menyerahkan kepada Pemkab Morowali sebagai wasit, katanya.

Sebenenya tuntutan mereka kita bisa jawab semua, tetapi tidak harus kita perdebatkan dan ini sangat kami sayangkan, pungkasnya.

Hal itu disampaikan Askurullah kepada media ini pada rabu, (5/8/2020) di kantor IMIP usai aksi membubarkan diri.

** Baca juga : Aliansi Buruh dan Rakyat Bersatu Tegaskan, “Kami Butuh Realisasi“.

Peliput : Abd Rahman Tanra.

print

Berita Populer

To Top