Lombok

Menengok Gubuk Derita Inak Hairiah, Tidur Bersama Hewan Ternak, Beralaskan Plastik Hasil Memulung


LOMBOK TIMUR, IGLOBALNEWS.CO.ID – Mentari semakin senja, matanya sayu menatap terik mentari seakan tiada perduli dengan hidupnya yang miskin penuh derita, keriput kulitnya legam sehitam nasibnya yang nestapa. Langkahnya gontai berjalan diantara tumpukan sampah berserakan, tangannya yang renta tak berdaya mengais bekas sampah plastik untuk dijual untuk menyambung hidup bersama keluarganya yang nestapa.

Dialah Inak Hairiah (65) tahun, warga jalan Diponegoro Gang sandat, RT 12 Kelurahan Majidi Selong Kabupaten Lombok Timur, meskipun sudah tua renta dan ditinggal mati oleh suaminya, semangatnya untuk menapkahi 1 orang anak dan 2 orang cucunya tidak pernah surut.

Jangankan untuk memiliki perabot rumah tangga seperti kebanyakan orang, untuk sekedar makan sehari hari saja ia harus mengais plastik ditumpukan sampah warga dari terbit matahari hingga siang hari, setelah dirasa cukup barulah dijual untuk membeli beras.

Meskipun hidup tidak berkecukupan tinggal dirumah berukuran 4×6 meter, tanpa memiliki tempat Mandi Cuci Kakus(MCK), tempat tidur bercampur dengan ayam ternak dan plastik bekas hasil dari memulung sampah, lengkap sudah penderitaan prempuan tua kelahiran Kampung Bermi Kelurahan Pancor tersebut. Meskipun hidup serba kekurangan, sedikipun ia tidak pernah mengeluh.

Saat ditemui wartawan iglobalnews, Sabtu (18/7/2020), di Gubuk Derita beralaskan tanah ditemani ayam ternak ditengah tumpukan plastik bekas, ia memaparkan perjuangannya seorang diri menghidupi anak dan cucunya.

jangankan untuk memiliki perabot, untuk mandi sehari hari saja sulitnya minta ampun, dari pagi buta dia harus mengambil air dengan ember di Parit depan rumah warga, tentunya sangat jauh dari kata sehat dan layak.

Rumah yang ia tempati, tidak ada sumur MCK, jadi untuk mandi dan kebutuhan lainnya sangat bergantung pada air Sungai, jika tidak ada air sungai, ia dan cucunya akan keliling, bahkan tidak jarang pergi ke Kampung sebelah dengan kondisi tubuhnya yang lanjut usia.

Baca Juga  Sekdis Dinas Pendidikan Lotim : Kehadiran BPJS Kesehatan Sangat Membantu Pembiayaan Kesehatan

“Saya pernah minta air sama tetangga, tapi saya malu setiap hari merepotkan orang lain, impian l saya dari dulu ingin memiliki sumur dan WC, namun, untuk makan saja susah sekali, apalagi untuk biaya pembuatan sumur dan WC, belum lagi jika hujan turun atap rumah sering bocor disana sini,” tuturnya sesekali menyeka air matanya.

Lebih jauh disampaikan Inak Rohaniah, untuk makan saja ia harus mengumpulkan plastik bekas dari pagi hingga siang hari, setelah terkumpul 1 sampai 2 kg lalu dijual pada pengepul. Ditanya harga perkilo dari plastik sampah, Inak Hairiah menjawab sekitar 10 ribu per kilonya.

“Jika plastik itu sudah terkumpul 2 kilo baru saya jual dan alhamdulillah cukup untuk makan dua hari dan kebutuhan dapur, jika ada lebih hasil penjualan kami tabung untuk belanja sekolah anak dan cucu,” paparnya sembari matanya berkaca kaca.

Ia berharap, para dermawan yang sudi melihat Gubuk Reotnya ucap Inak Hairiah, bantuan untuk pembuatan sumur dan WC, untuk memudahkan kebutuhannya sehari hari, tandasnya.

Reporter: Jhon.

print

Berita Populer

To Top