Sulawesi Tengah

Usulan Ketua DPRD Morowali Sholat Id di Masjid Menuai Dukungan dari Berbagai Elemen Masyarakat

Kuswandi (Ketua DPRD Morowali )

Photo Kuswandi Ketua DPRD Morowali.

MOROWALI, IGLOBALNEWS.CO.ID – Berbagai Elemen masyarakat memberikan dukungan penuh terhadap usulan ketua DPRD Morowali Kuswandi kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melalui rapat pada rabu mendatang (20/05/2020) terkait pelaksanaan Sholat Hari raya Idhul Fitri dilaksanakan di Masjid atau di lapangan.

Pengusulan Ketua DPRD Morowali tersebut seiring dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 28 tahun 2020 pada hari rabu tanggal 13 mei 2020 tentang dua opsi pelaksanaan sholat Idul Fitri di tengah pendemi Covid-19.

Dukungan terus mengalir dari berbagai kalangan diantaranya : H.Sabar tokoh Masyarakat Kecamatan Witaponda. Ia menuturkan dirinya sangat mendukung pelaksanaan Sholat Hari Raya Idhul Fitri dilaksanakan di Masjid atau di lapangan.

Menurut H.Sabar Kecamatan Wita Ponda masih aman belum ada yang masyarakat yang berstatus PDP maupun ODP.

” Sholat idul Fitri bisa dilakukan di lapangan apabila cuaca mendukung.”

Harus dilakukan pengukuran suhu, pakai masker dan jaga jarak serta tidak bersalaman setelah sholat id.

Bagi jamaah yang memiliki suhu diatas 38 c. Sementara di setiap desa sudah ada petugas relawan covid-19 yang dibentuk kepala Desa (Kades), katanya.

Hal senada juga disampaikan Agus (petani) warga desa Lantula jaya. Ia menuturkan, shalat hari raya ID bisa dilaksanakan berjamaah di Masjid selama memperhatikan protokol penanganan covid-19 dengan menggunakan masker dan tidak bersalaman setelah shalat, tuturnya.

Sementara tokoh masyarakat Morowali H.Umar Rasyid sangat mengharapkan agar pelaksanaan sholat ied bisa di laksanakan secara berjamaah di lapangan/masjid dengan empat alasan diantaranya:
1. Sesuai surat edaran MUI di mana mengizinkan untuk sholat berjamaah bagi daerah yang masih hijau/terkendali.
2. Daerah Morowali sebenarnya belum masuk zona merah vandemik Covid-19 karena belum terdapat 10 warga yang tertular.
3. Berdasarkan point 1 dan 2 sehingga jangan sampai pengambil kebijakan salah mengambil keputusan krarena ini menyangkut ummat.
3. Morowali sebenarnya dari awal karena berdasarkan surat edaran bupati sudah menjadi daerah tertutup sehingga mobilitas orang keluar dan masuk sudah sangat terbatas, dan.
4. Disarankan sebaiknya sholat ied di lapangan dari pada di daerah tertutup karena di lapangan sirkulasi udara terbuka dan disinari matahari.

Baca Juga  Merayakan Natal, Wakil Bupati Morowali Gelar Open House

Tokoh pemuda yang getol menyiarkan agama Baso Fitra warga Kecamatan Bungku tengah secara pribadi memohon kepada pemerintah mengizinkan masyarakat untuk dilaksanakan sholat Id di Masjid.

Menurutnya dengan pertimbangan bahwa, kalau dilaksanakan di Masjid. Aparat Desa/Dusun/Warga bisa mengidentidikasi (mengenal) jamaah yang shalat di daerah masing-masing.

Pemerintah juga bisa menekankan kepada Ta’mir masjid untuk disampaikan ke warga bahwa, bagi orang yang baru masuk ke daerah tersebut untuk melaksanakan sholat Id harus melakukan pemeriksaan ke petugas kesehatan yang berwenang (tim gugus covid-19 kecamatan masing-masing), dan warga terus dihimbau untuk menjaga kesehatan sesuai dengan prosedur dan pencegahan penyebaran covid-19.

Kalau sholat id dilaksanakan di Lapangan tentu Pemerintah tidak mampu mengidentifikasi warga yang melaksanakan shalat, itu sangat beresiko.

Jika warga melaksanakan shalat Id di Rumah, tidak menjamin semua kepala rumah tangga mengetahui syarat sah sholat Id. Itu membutuhkan waktu lama untuk mensosialisasikan tata caranya. Tutur Baso Fitra kepada awak media ini pada senin, (18/05/2020).

Amrin Warga Desa Kolono, Kecamatan Bungku timur (swasta) juga mengusulkan dilaksanakan sholat Id berjamaah di Masjid.

Menurutnya kalau bisa untuk wilayah Morowali seluruhnya laksanakan saja di Mesjid maupun di lapangan dengan catatan pemerintah anjurkan masyarakat menggunakan masker dan bawa sejada masing masing, pintanya.

MUI membolehkan sholat Idul Fitri diselenggarakan di tanah lapang, Masjid, atau Mushala, khusus bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan wabah Covid-19 terkendali.

Misalnya, di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, atau masyarakatnya tidak ada yang terinfeksi virus corona.

Sebelumnya usulan ketua DPRD Morowali itu sudah viral dan ramai diberitakan media cetak dan media online.

Peliput : Abd Rahman Tanra.

print

Berita Populer

To Top