Jakarta

Komnas Perlindungan Anak Meminta Pemerintah Penetapan New Normal Jangan Terburu-buru

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.

Photo Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.

JAKARTA, IGLOBALNEWS.CO.ID – Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) mengajak semua komponen bangsa, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara menjalankan “the new normal” di sektor pendidikan menggunakan pendekatan berdamai dengan corona mengginakan strategi mendisiplinkan diri untuk senatiasa taat pada Protokol Kesehatan Percepatan Penanganan Covid-19.

Kebijakan Tatanan Normal Baru untuk memulihkan sektor ekonomi, jasa dan transportasi harus mendapat dukungan semua komponen bangsa namun tidak untuk “the new normal” disektor pendidikan jika dilakukan terburu-buru, ketidak hatihatian dan tidak dilakukan dengan cara bertahap serta memastikan bahwa kurva virus corona berangsur-angsur menurun dan dipastikan pula secara perlahan berlalu di Indonesia.

Oleh sebab itu, untuk menjalankan tatanan norma baru dalam sektor pendidikan secara optimal bangsa Indonesia harus berani berdamai dengan corona dan memastikan bahwa komunitas anak usia sekolah dasar dan menengah mendapat perlindungan yang maksimal dari serangan virus corona, Komnas Perlindungan Anak bersama mitra kerjanya Lembaga Perlindungan Anak (LPA) se-Nusantara meminta agar jangan membuka sekolah secara luas dan terbuka dan terburu-buru tanpa mendapat jaminan bahwa lingkungan sekolah negeri dan swasta di Indonesia steril dari Covid-19.

Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga perlindungan anak independen di Indonesia yang diberikan tugas dan fungsi memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia bersama Lembaga Perlindungan Anak (LPA) diseluruh Nusantara meminta dan mengusulkan kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk pelaksanaan Anak kembali ke sekolah agar dijalankan demi kepentingan terbaik anak (the best interest of the child) dengan menggunakan pendekatan berdamai dengan virus corona dalam menjalankan aktivitas anak Indonesia kembali ke sekolah (back to school) dengan tatanan norma baru menggunakan strategi baru kembali ke sekolah dengan tahapan yang terukur, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dalam keterangan persnya di studio Komnas Anak TV, Sabtu (30/05/2020).

Baca Juga  Arief Budiman : Pembangunan Demokrasi Berkemanusiaan dan Berkeadilan

Langkah strategis dan bertahap yang harus dilakukan selama berdamai dengan corona sebagai bagian menjalankan norma baru di sektor pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.

Untuk dua minggu permulaan diberlakukan untuk anak usia sekolah menengah atas setingkat SMA dengan syarat yaitu :
1. Disiplin terhadap Protokol Kesehatan Covid-19.
2. Jam belajar dan mengajar dikurangi. Dari 8 jam sehari menjadi 4 jam, kemudian diatur kelas mana yang mengikuti jan belajar pagi, siang dan sore, dan.
3. Agar kebijakan protokol Kesehatan Covid-19 dapat menjalan selama kembali belajar di sekolah mengurangi jumlah peserta didik yang semula 36-40 orang dalam satu kelas dibagi dua menjadi dua kelas sehingga satu meja untuk satu orang peserta did ik kemudian jam belajarnya juga bisa dibagi menjadi jam belajar atau kelas pagi untuk kelas A dan kelas B untuk siang hari dan kelas C untuk sore hari demikian seterusnya. Namun konsekuensinya berdampak menambah sumberdaya guru yang profesional.
4. Untuk menjalan normal baru “back to school”, sekolah atas dukungan dana Bantuan Opetasional Sekolah (BOS) wajib menyediakan APD, misalnya menyediakan masker cuma-cuma yang digunakan peserta didik sekali pemakaian, menyediakan alat pengukur temperatur badan, hand sanitazer, disinfektan dan APD bentuk lainnya.

Jika tahapan untuk kelas menengah atas sudah berjalan kemudian dilakukan untuk anak-anak usia sekolah menengah pertama dengan menggunakan strategi serupa setelah mendapat evaluasi terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMK)

Dan seterusnya program “back to school” bagi peserta didik Sekolah Dasar (SD) dan dilanjut dengan anak peserta didik tingkat PAUD dan TK dengan penuh extra pengawasan dan perlindungan anak. Karena anak-anak tingkat PAUD, Taman Kanak-kanak (TK) hingga usia SD tidak paham akan bahaya Virus Corona yang mengancam dirinya .

print

Laman: 1 2

Berita Populer

To Top