Jakarta

Arief Budiman : Pembangunan Demokrasi Berkemanusiaan dan Berkeadilan

on

JAKARTA, IGLOBALNEWS.CO.ID – Ketika usia SMA, saya mulai biasa membaca sejumlah majalah, koran, buku-buku pengetahuan umum dan relatif sedikit bacaan “pergerakan”. Tentu membaca juga buku standar mata pelajaran sekolah sebagai bacaan wajib pendidikan formal. Tradisi membaca ini turun dari kebiasaan orangtua (ayah) saya yang banyak menyimpan, mengoleksi, dan terbiasa membaca buku dan media cetak. Materi dan sasaran bacaan terutama buku pengetahuan umum dan pergerakan. Perihal ini mungkin karena berkaitan dengan latarbelakang orangtua saya yang pernah menjadi pimpinan Gerakan Pemuda Marhaen, pimpinan Persatuan Tani Nasional, pimpinan Lembaga Kebudayaan Nasional tahun 1950-an dan menjadi salah seorang Pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1960-an di daerah saat itu, Minggu (26/04/2020).

Selama proses membaca dan dalam beberapa bacaan, muncul nama Arief Budiman, sehingga saya mulai mengenali, mengetahui. Dan juga mendengar dari berbagai pihak mengenai sosok Arief Budiman. Sejak itu, saya sepertinya sudah “berkenalan” dengan Arief Budiman padahal belum berkenalan benaran. Terminologi berkenalan dalam konteks ini menjadi penting. Arief Budiman berkategori figur yang relatif paripurna dengan kekuatan kapasitas dan keragaman atribusi yang dimiliki di antara akademisi lain. Arief Budiman adalah akademisi, intelektual, cendekiawan, budayawan, sastrawan, filsuf, pemikir, penulis, demonstran, pejuang, dan aktifis sepanjang hayat.

Kami baru bertemu langsung sembari berdiskusi ketika saya menjadi mahasiswa di Yogyakarta pertengahan tahun 1980-an. Arief Budiman sudah menetap beberapa tahun sebelumnya di Salatiga, Jateng menjadi Dosen Tetap di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang merupakan sebuah Perguruan Tinggi (Universitas) terkenal, ternama, kredibel, dan berkualitas, yang turut dibesarkan Arief Budiman. Sosok Arief Budiman berpembawaan sederhana, bersahaja, humanis, egaliter, familiar, lugas, kritis obyektif-jernih-terukur dan solutif, “tajam menggigit”, juga arif dan budiman sebagaimana nama yang disandang. Perihal ini merupakan sifat luhur mulia dan kepribadian kuat teguh yang melekat di dalam keseluruhan dinamika pergerakan dan dialektika perjuangan Arief Budiman. Saya merasakan betul sifat dan kepribadian kemanusiaan yang dibumikan dan watak keadaban yang dipraxiskan Arief Budiman.

Baca Juga  Menko Polhukam Berharap Wantannas Segera Susun Program Bela Negara Secara Nasional

Ada sedikit momen evaluatif dan kesempatan reflektif yang saya saksikan dan alami berkaitan dengan Arief Budiman. Tentu masih amat banyak lagi berbagai kalangan, para aktifis dan senior-sesepuh lain yang pasti lebih sering dan lebih banyak lagi mengalami momen pergerakan dan perjuangan bersama Arief Budiman. Demikian pula sahabat-sahabat dan handai taulan/sanak famili Arief Budiman. Suatu ketika di akhir tahun 1980-an atau di awal tahun 1990-an, diselenggarakan sebuah Seminar Nasional di Yogyakarta.

Seminar berlangsung atas kerjasama informal Senat Mahasiswa sejumlah kampus, yang diselenggarakan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) sekarang Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Ada juga aktifis dan jurnalis pers mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Majalah Arena (UIN Sunan Kalijaga). Pembicara Utama adalah Arief Budiman. Sebelum dan setelah seminar berlangsung, Arief Budiman dan saya berdiskusi dengan hangat dan dinamis yang berintikan pada penguatan kerakyatan dan kebangsaan menuju perubahan politik. Arief Budiman mengajak dan mengundang saya datang ke Salatiga melanjutkan diskusi secara khusus karena belum selesai diskusi kami berdua ketika di kampus UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Seminar Nasional tersebut turut didukung dan didorong oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). Organ FKMY adalah satu-satunya elemen gabungan kalangan aktifis mahasiswa dari berbagai kampus Pergururuan Tinggi di Yogyakarta di era tahun 1980-an sampai di awal era tahun 1990-an. FKMY senantiasa dan terus menerus melakukan aksi pendampingan dan pembelaan rakyat dan yang menjadi korban massal dan struktural akibat dari kebijakan represif dan perlakuan diskriminatif dari sistem dan struktur kekuasaan rezim ketika itu dengan topangan bangunan politik otoritarian orba. Saya saat itu selain sebagai salah seorang Ketua Senat Mahasiswa, juga sebagai salah seorang Ketua Presidium FKMY, sehingga saya terlibat dan hadir dalam penyelenggaraan Seminar Nasional tersebut.

Baca Juga  PT. CMG MENGADAKAN SOSIALISASI TENTANG KEUNGGULAN BAHAN BAKAR GAS

Ketua-Ketua Presidium FKMY saat itu selain saya yang bergantian dengan Heroe (Nongko) Waskito, juga adalah : Johnsony Tobing (Pencipta Lagu “Darah Juang”), Brotoseno, Burhanudin bergantian dengan Ngatawi Al-Zastrow, Hendra Budiman bergantian dengan (Alm) M. Yamin, Aam Sapulete, Sugianto bergantian dengan Yudi. Kepemimpinan dan keanggotaan ini merupakan representase strategis dari beberapa kampus utama yang merupakan basis pergerakan dan perjuangan aktifis mahasiswa saat itu. Ada dari kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), IAIN/UIN Sunan Kalijaga, Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Janabadra (UJB), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan beberapa kampus lain lagi. Organ FKMY selain membangun aliansi taktis dan strategis dengan sejumlah organ pergerakan dan perjuangan mahasiswa di beberapa kota/daerah di Jawa dan di Indonesia pada umumnya, juga memiliki relasi emosional kuat secara mandiri dan independen dengan Arief Budiman dan sejumlah simpul pergerakan dan perjuangan lainnya yang seide, segagasan, senafas, dan segerakan.

print

Laman: 1 2 3

About Media iGlobalNews

Media online iGlobalNews adalah media informasi dan inspirasi. Media iGlobalNews mengabarkan berita secara cepat, tepat, terpercaya dan memberikan sajian secara aktual, tajam dan kredibel.