Hukum

PT BPR BEST Moh Nuh Said Tidak Melakukan Prinsip Ke Hati Hatian dan Berbelit Belit di Persidangan

TANGERANG, IGLBALNEWS.CO.ID – Sidang pemeriksaan terdakwa, Moh Nuh Said, bin Said Budi (43 tahun) Kepala Kantor Cabang Pembantu (KCP) PT BPR BEST (Bank Perkereditan Rakyat) Alam Sutra, yang mengucurkan pinjaman kepada debitur banyak yang tidak sesuai dengan agunan, dalam Agenda pemeriksaan terdakwa Rabu, (11 /12/2019) di Pengadilan Negeri Tangerang.

Jumlah Sertifikat yang menjadi agunan dalam pengajuan Kredit untuk 112 PNS Guru di KCP. PT. BEST BPR cabang Alam Sutra, senilai 7 miliar, banyak yang tidak sesuai, terdakwa Moh, Nuh mengatakan taunya baru di Persidangan, dalam penanda tanganan kredit ada Memorandum of Understanding (MOU) secara tertulis antara nasabah dan debitur.

Perbuatan mantan KCP PT. BEST BPR, Moh Nuh sesuai dakwaan, JPU Psl 49 ayat (2) a UU No 10 Tahun 1998 ttg perubahan UU No 7 Tahun 1992 ttg Perbankan Jo pasal 64 ayat 1 KUHP. dan Kedua pasal 49 ayat (2) b UU No 10 / 1998 seduai perobahan UU No 7 / 1992 ttg Perbankan Jo pasal 64 ayat 2 KUHP.

Terdakwa, Nuh menerangakan kepada Ketua Majelis hakim yang diketua Moh Damis, yang sekarang menjabat Ketua PN Tangerang, yang membawa nasabah mendapat, Fei 0, 5% (persen) dari pengajuan kredit yang dikabulkan BPR, tapi dalam prakteknya bisa sampai 10% dan itu hanya kebijakan, Kepala KCP PT BPR BEST alam sutra.

Dalam pengembalian dan cicilan Nasabah, fterdakwa, Moh Nuh tidak melakukan prinsif ke hati hatian dan mengatakan angsuran pertama dipotong langsung selama 3 bulan dari pinjaman, dan yang 1 bulan masuk ke rekening KCP. PT. BPR BEST dan itu sudah aturan kantor.

Ketika majelis hakim, Moh Damis mengatakan terdakwa, Apakah benar ada yang pernah mendapat kredit di KCP PT. BPR BEST alam sutra , senilai 80 juta rupiah, tapi nasabah hanya menerima 56 juta, terdakwa hanya terdiam, dan tidak melakukan prinsip ke hati hatian terhadap nasabah.

Baca Juga  Bripka Teguh Dwiyatno Ditemukan Tewas Di Asrama Brimob

JPU, Rony dari Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan, dalam persidangan menanyakan berapa gaji yang diterima terdakwa setiap bulan, terdakwa menjawab 10 juta, dalam sebulan ada berapa kali uang ditransfer ke rekening saudara, terdakwa mengatakan tidak tahu, karena tidak pernah frin.

Lebih lanjut jaksa menanyakan terdakwa, selain gaji bisa berapa yang masuk ke rekening setiap bulan, Moh Nuh menjawab paling 500 ribu, ketika di pertegas terdakwa yang jujur berapa, terdakwa menjawab paling banyak 3 juta dari kordinator nasabah dan yayasan pembangunan mesjid.

Ketika jaksa membacakan bukti bukti yang masuk ke rekening terdakwa, mantan Kepala KCP. BPR Alam Sutra, Moh Nuh Said, tidak bisa berkutik dan hanya terdiam, apa lagi ketika JPU mengajak berdiri dan menunjukan bukti transfer dihadapan ketua majelis hakim.

Dalam 1 bulan uang transper bisa sampai 40 juta lebih itu di luar gaji terdakwa, ujar JPU Roni ketika dalam pembuktianya. Bulan april 2017 ada transper 10 juta. Tanggal 17 / 4 / 2017 transper dari rekening Suci sebanyak 7 juta, Tanggal 15 / 6 / 2017 ada 2 kali tranper masuk 13 dan 15 juta.

Ketika JPU menanyakan apakah uang itu benar masuk ke rekening terdakwa, Nuh masih berkelit dan berbohong bahwa itu uang yayasan dan bantuan dari Donatur untuk Pembangunan mesjid.

Mantan kepaka KCP. BPR Alam Sutra menangis dan menuduh Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) dan Direksi mengorbankan terdakwa sengaja membuat Kredit macet, atas petunjuk dari Komesaris BPR .

Penulis : JP. Dasuha.
Editor : A Jueni.

print

Berita Populer

To Top