Jambi

Diduga PT SBP Melakukan Pencernaan Lingkungan, LSM SP3LH Berikan Surat Somasi

SAROLANGUN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Akhir akhir ini Sebuah Perusahaan yang bergerak di bidang tambang batubara yaitu PT Sarolangun Bara Prima (SBP) menjadi sorotan dari kalangan LSM, hal ini dikarenakan perusahaan tambang batubara tersebut telah membuat Resah banyak masyarakat salah satunya yaitu warga yang bernama Herman Suparman iya mengatakan jika kebun karet milik nya terendam oleh air limbah PT SBP dan tidak bisa menghasilkan lagi secara Normal.

Selain Pohon karet nya banyak yang mati penghasilanpun sudah sangat berkurang keluh Herman, ” pada awal nya kebun kami ini jika di sadap satu Minggu bisa menghasilkan 100 kg, tapi saat ini hanya tinggal 50 kg lagi.” Kata Herman

” Dahulunya ini hanyalah Rawa kering jika hujan saja baru ada airnya, tapi setelah adanya aktivitas perusahaan tambang batubara PT SBP kebun saya jadi terendam selamanya.”

Herman berharap melalui kuasa nya kepada LSM SP3LH yang di Ketuai boleh Sukiman persoalannya bisa teratasi, dan pihak perusahaan bertanggung jawab Mengantikan kerugian yang di alami nya.

Sementara itu ketua umum LSM Suaka Pelestari Pelindung Penjaga Lingkungan Hidup (SP3LH) saat di konfirmasi Senin (03/11/2019) membenarkan akan hal ini, ” iya benar saya telah menurunkan tim investigasi ke lokasi perusahaan tambang batubara PT SBP beberapa waktu yang lalu.

Dan kita telah melayangkan surat somasi pada tanggal 22 Oktober terhadap temuan tim kita di lapangan, sedikit kutipan dari somasi yang dilayangkan antara lain sebagai berikut :

Bahwa Lokasi Pembuangan Over Boden (OB) dan bibir galian Tambang yang berada pada PT Sarolangun Bara Prima (SBP) telah melanggar Peraturan Garis Sepadan Sungai, yaitu Sungai Ketalo, bahwa akibat Over Boden (OB) yang patut diduga dilakukan oleh PT Sarolangun Bara Prima (SBP) mengakibatkan terjadinya longsor Over Boden (OB) tersebut kedalam Sungai Ketalo yang membuat terjadinya Pendangkalan Sungai Ketalo.

Baca Juga  Acara Syukuran di Posko Kemenangan Diserbu Massa Pendukung Ronald Pasaribu

Bahwa pada lokasi Tambang PT Sarolangun Bara Prima (SBP) terdapat Sungai yang bernama sungai Srik, dimana Sungai ini telah putus aliran nya diakibatkan Operasi Tambang.

Bahwa semestinya air pada sungai Srik tersebut mengalir kedalam sungai Ketalo, dengan adanya pemutusan aliran air Sungai Srik yang patut diduga dilakukan oleh PT Sarolangun Bara Prima (SBP) dalam kegiatan Operasional nya maka aliran sungai Srik tersebut terhambat menuju sungai Ketalo.

Bahwa Patut diduga PT Sarolangun Bara Prima (SBP) dalam Operasional nya telah melakukan Pencemaran lingkungan dikarenakan telah membuang aliran air yang berada pada Tambang batu bara Langsung pada aliran sungai Srik tersebut.

Oleh karena itu patut diduga bahwa pihak perusahaan PT SBP telah melanggar Aturan perundang undangan mengenai lingkungan hidup dan peraturan menteri PUPR RI no 28/PRT/M/2015 tentang penetapan garis sempadan sungai dan garis sepadan Danau, selain itu pada UU RI Tentang pengelolaan Lingkungan hidup pada pasal 34 yaitu setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencernaan lingkungan dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian kepada orang lain atau lingkungan hidup, Mewajibkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu.

Sukiman juga mengatakan akan mendesak Dinas Lingkungan hidup (DLH) kabupaten Sarolangun untuk membekukan izin Lingkungan dari Perusahaan tersebut karena menurutnya perusahaan tambang batubara PT SBP sudah terlalu banyak melanggar dari ketentuan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu Sukiman mengancam akan mengadakan aksi penutupan aktivitas perusahaan tambang tersebut jika tuntutan dari masyarakat di abadikan.

” Kita akan adakan aksi pada hari Jum’at tanggal 8 November akan melakukan penutupan aktivitas perusahaan tambang batubara tersebut.” Tutupnya.

Baca Juga  SDN Nomor 181/Vll Seleksi Siswa untuk Mengikuti O2SN Tingkat SD

Sementara itu pihak perusahaan PT SBP saat didatangi ke kantor cabang nya yang terletak didesa Kute jaye kec Mandiangin untuk dimintai tanggapan nya tidak bisa ditemui, menurut salah satu pekerja yang berada di sana jika orang yang berkompeten di perusahaan itu lagi cuti.

” Pak Mutunya lagi cuti tiga Minggu.” Jawabnya singkat

Media ini mencoba meminta no telpon yang bersangkutan tapi tidak satupun yang bekerja menyimpan no mutu yang dimaksud, Sampai Berta ini di tayangkan media ini belum dapat menghubungi management dari pihak perusahaan tersebut.

Penulis : AR.
Editor : A Jueni.

print

Berita Populer

To Top