Leaderboard Iklan Muba Pelantikan Muba DPRD Iklan HUT TNI ke-74 Morowali
Berita Utama

Ketum LSM SP3LH Sebut PT AAS Langgar Perjanjian Penghentian Konflik

SAROLANGUN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Ketua umum LSM SP3LH, Sukiman menanggapi persoalan yang terjadi antara PT AAS (Agronusa Alam Sentosa) dan warga dari 12 Desa Kecamatan Mandiangin. Ia mengatakan bahwa PT AAS (Agronusa Alam Sentosa) sudah mengingkari MoU yang ditandatangani sewaktu mediasi di Kantor Kehutanan Provinsi jambi, tentang kesepakatan penghentian konflik pasal 3.

Dalam pasal tersebut, para pihak berjanji untuk:

Bagian (1)
a. Menjaga kondisi Perdamaian di area objek kesepakatan.
b. Menjaga keamanan area objek kesepakatan dari bahaya kebakaran hutan, ilegal logging, dan pembakaran hutan.

Bagian (2)
Pihak pertama :
a. Berjanji untuk tidak melakukan penggusuran lahan dan/atau penebangan tanaman milik pihak kedua yang sudah produktif tetapi bukan untuk tanaman baru ditambah serta tidak melakukan aktivitas yang akan menghilangkan barang bukti.
b. Dapat melakukan pemanenan tanaman miliknya.

“Namun apa yang terjadi di lapangan, warga menemukan racun kayu yang masih berisi di dalam sebuah botol Aqua dari lahan warga yang diduga racun untuk membunuh tanaman pohon karet warga. Dan hal ini pun telah dilaporkan ke salah satu humas perusahaan yang kerap dipanggil Simbolon,” Kata Sukiman.

“Artinya pihak perusahaan telah melanggar dari salah satu isi dari surat kesepakatan yang telah ditandatangani bersama, pihak perusahaan ingin menghilangkan barang bukti dengan cara membunuh tanaman warga, serta masih melakukan pengusuran setelah perjanjian beberapa bulan yang lalu,” Ujarnya.

Sukiman mengklaim jika dia bersama timnya memiliki barang bukti, serta menunjukan foto-foto tentang penggusuran yang dilakukan oleh pihak PT AAS (Agronusa Alam Sentosa) beberapa waktu yang lalu kepada media ini.

“Kita bicara apa yang terjadi di lapangan, kita juga berharap agar pemerintah pusat bisa mengambil sikap tegas agar masyarakat tidak dirugikan. Setidaknya mohon agar diganti kerugian bibit karet yang telah digusur itu. Bibit-bibit itu kan dibeli, Imas tumbang secara manual yang dilakukan para warga itu kan memakan biaya, miris sekali rasanya jika persoalan ganti rugi bibit karet warga ini sampai berlarut-larut terlalu lama. Kita meminta agar pemerintah pusat bisa bijak, kasihan sekali, masyarakat juga ingin hidup, jika diganti kerugian bibit bibit mereka itu, kan bisa dimanfaatkan untuk modal bercocok tanam ke tempat lain,” Kata Sukiman.

Baca Juga  Seorang Perempuan Diduga Jadi Korban Mucikari PSK di Desa Sungai Baung

Terkait hal ini saat dikonfirmasi kepada Distrik Manager PT AAS (Agronusa Alam Sentosa), Firman Purba melalui pesan WhatsApp, Jumat (9/8/2019) menjawab dan membantah apa yang telah dikatakan Ketua Umum LSM SP3LH ini.

“Itu tuduhan Pak, sudah pasti fitnah. Kegiatan perusahaan kami saat ini adalah memanen kayu HTI yang kami tanam sejak 5-7 tahun yang lalu,” Kata Firman Purba.

“Jadi, tidak ada yang namanya menggusur apalagi menghilangkan barang bukti. Apa yang ditanam sekitar tahun 2012-2014 yang lalu itulah yang kami panen. Jadi saya tidak memahami istilah mereka yang mengatakan menggusur atau menghilangkan barang bukti,” Katanya

Pemerintah memberikan izin kepada PT. WN dan PT. AAS di dalam kawasan hutan produksi yang layak ditanami HTI dengan tujuan agar tanah negara tersebut dihutankan dengan hutan tanaman, juga memberikan izin memanfaatkan tanaman tersebut saat dipanen. Selain itu, pemerintah juga memberikan kewajiban agar hutan itu tetap dijaga.

Nah, kalau saat ini setelah 5-7 tahun kita sudah tanami, lalu ada orang mengatakan perusahaan telah menggusur, itu artinya sudah keliru. Pertama keliru menuntut adanya penggusuran 5 tahun lalu. Mengapa tidak dihentikan saja dahulu kalau memang ada yang digusur saat menanam HTI itu,” Ujarnya.

“Kedua, pemerintah berarti sudah keliru memberikan areal bermasalah kepada perusahaan, sehingga kalau ini diganti rugi oleh perusahaan, berarti perusahaan telah dimanfaatkan pemerintah untuk menyelesaikan hutan yang bermasalah dan sekarang setelah hutan baik dipaksa untuk ganti rugi, Pasti ini tidak benar.

Ia melanjutkan, “Perusahaan tidak mungkin mengganti rugi, sebab kalau ada pohon atau kayu di dalam areal untuk dijadikan HTI, kayunya pasti dibayar dulu kepada pemerintah baru bisa dimanfaatkan. Jadi apa yang dimaksud menggusur, hasil panen sekarang pun kami tetap bayar kepada pemerintah kalau kayunya kami manfaatkan.”

Baca Juga  Cek Endra Hadiri pengajian Akbar di Pondok Pesantren Nurul Huda

“Kekeliruan ketiga bagi mereka yang menuduh perusahaan menggusur adalah, tidak mungkin perusahaan menggusur kebun karet masyarakat walaupun masyarakat itu dahulu telah menggarap lahan tanpa izin. Sebab terbukti sekarang petak petak tanaman HTI yang ada sekarang bersebelahan dengan petak petak kebun karet yang telah ada sebelum tahun 2012. Kalau perusahaan mau menggusur, kenapa masih membiarkan tanaman karet yang bisa tumbuh berdampingan sekarang? Gusur saja dulu 7 tahun lalu supaya lebih efisien,” Katanya.

“Tentang tuduhan menghilangkan barang bukti, itu jelas jelas fitnah. Andai Bapak bisa melihat langsung ke lapangan yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak oknum masyarakat melakukan pengrusakan tanaman acacia kami degan cara: mula-mula secara diam-diam mereka menanam karet di bawah pohon Acacia tersebut. Setelah beberapa bulan atau tahun ketika karet tersebut mulai sebesar telunjuk, mereka mulai membunuh tanaman acacia kami dengan dua cara. Pertama ada yang melakukan pengupasan kulit tanaman Acacia itu dengan istilah diteres atau diketing sehingga mati pelan-pelan,” Jelasnya.

“Kedua, dengan cara melukai tanaman acacia itu lalu memasukkan racun pohon. Sehingga pohon pohon tersebut mati pelan-pelan satu per satu. Pada akhirnya tanaman karet dapat bertumbuh menjadi lebih besar. Hal ini banyak terjadi menjadi modus penyerobotan lahan. Beberapa orang telah tertangkap dan diprosesdiketing hukum yang melakukan modus seperti itu,” Kata Firman Purba.

“Jadi, tuduhan yang Bapak sampaikan tadi semuanya itu fitnah dan hanya ingin memperkeruh suasana. Harapan kami, marilah kita menegakkan kebenaran dan memberdayakan masyarakat untuk hidup degan benar,” Tutup Firman.

Pantauan media ini di lapangan apa yang dikatakan Firman Purba, berbeda dengan kenyataannya. Media iglobalnews.co.id saat investigasi pada Kamis (8/8/2019) tidak menemukan adanya pohon Acacia diretas atau diketing ataupun diracun supaya mati.

Baca Juga  Seorang Pelajar Tewas Terlindas Truk.

Tapi yang banyak ditemukan di lapangan pohon karet yang sudah menjadi puing-puing yang sudah bergelimpangan di tanah dan sudah mati.

Ada juga ditemukan pohon karet yang masih hidup pada lahan yang diklaim warga, serta banyaknya pohon karet yang diteras atau diketing.

Penulis: Andra.
Editor: Dny.

print
Iklan Ucapan Pelantikan Presiden RI PT IMIP Iklan Muba Pelantikan DPRD Muba Iklan Ucapan Pelantikan Presiden RI PT OTI EA Abadi Iklan HUT TNI ke-74 Morowali Iklan HUT TNI ke-74 Morowali Iklan HUT TNI Morowali Iklan Morowali

Berita Populer

To Top