Leaderboard Iklan Bupati Muba Cup Prix 2019 Iklan HUT RI Dinas Bina Marga
Berita Utama

Desa Lalemo Ratusan Tahun Terisolir, Begini Aktivitas Penduduknya

MOROWALI, IGLOBALNEWS.CO.ID – Desa Lalemo yang terletak di Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali terdiri dari lima dusun. Empat dusun berada di daratan dan satu dusun berada di pulau.

Warga di empat dusun yang berada di daratan berprofesi sebagai petani cengkeh, sementara warga yang tinggal dusun lima (Pulau Baya Laut), berprofesi sebagai nelayan.

Desa Lalemo dihuni 113 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 417 jiwa dan jumlah rumah 96 unit.

Secara geografi, Desa Lalemo berada di sebelah selatan ibu kota Kabupaten Morowali dengan jarak tempuh sekitar 5 jam dengan menggunakan kapal laut.

Untuk sampai di Desa Lalemo sebelumnya harus transit di Kaleroang, ibu kota Kecamatan Bungku Selatan.

Dari Kaleroang selanjutnya menggunakan perahu batang dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam lamanya.

Muhammad Said, 82 tahun, salah satu warga Desa Lalemo yang ditemui awak media ini di rumah kediamannya memaparkan, bahwa Desa Lalemo sudah berusia ratusan tahun.

Dari dulu warga Desa Lalemo menggeluti profesi petani dan tanaman primadona adalah cengkeh.

Sampai sekarang warga masih menggeluti sebagai petani cengkeh. Selain itu, tanaman tambahan yang saat ini sedang dikembangkan adalah Lada dan Jambu Mente.

Saat ini sedang memasuki musim cengkeh, dan saat panen warga tersita waktunya di kebun masing-masing.

“Warga Desa Lalemo yang tinggal di darat dari dulu sebagai petani cengkeh,” Ungkapnya.

“Jadi, ketika musim cengkeh tiba anak-anak pun juga terlibat membantu orang tua masing-masing mengolah dan mengurus hasil perkebunan,” Ucap Muhammad Said.

Dengan kondisi tanah yang subur dan kultur tanah yang berbukit-bukit, selain dekat dari laut membuat lahannya sangat cocok untuk tanaman cengkeh.

“Pada zaman tahun tiga puluhan, Bapak saya dan teman-temannya menanam kelapa saat itu. Namun, harga kopra tidak sesuai lagi maka mulai dari situ kelapa diganti dengan cengkeh,” Ungkap Muhammad Said kepada awak media ini, Sabtu (13/7/2019).

Baca Juga  Genderang Perang dari Senayan: Sekber Pers Tamparan Buat Dewan Pers

Cuma yang menjadi permasalahan adalah akses darat yang belum ada. Sejak Desa Lalemo lahir memang dalam kondisi terisolir hingga kini. Hasil pertanian susah dipasarkan, meskipun bisa lewat laut, tapi biaya angkutan sangat mahal.

“Namun demikian, hasil perkebunan terpaksa dijual juga dengan harga murah karena pedagang yang masuk di desa ini mengeluarkan banyak biaya,” Paparnya.

Harapannya, pemerintah harus buka akses darat untuk mendokrat ekonomi masyarakat. Inilah persoalan yang harus dituntaskan pemerintah sehingga warga nantinya bisa lebih sejahtera.

“Sejalan dengan hadirnya TMMD di Desa Lalemo dengan membangun jembatan dan buka akses darat maka harapan dan impian warga Lalemo bisa terwujud,” Ujar dia.

Sementara, Ashar warga Pulau Baya Laut (Dusun Lima) Desa Lalemo mengungkapkan bahwa mayoritas warga Baya Laut berprofesi sebagai nelayan.

“Dari zaman dahulu, warga Pulau Baya memang menggeluti profesi nelayan, dan itulah yang menopang ekonomi keluarga hingga saat ini,” Katanya.

Ia menambahkan, “Hasil laut yang kami dapat, dibeli oleh pedagang dari luar seperti; ikan, kepiting dan lain-lainnya dan terkadang dibarter dengan barang lainnya oleh penduduk yang ada di daratan.”

“Anak-anak kami bisa sekolah sampai capai sarjana berkat hasil dari nelayan,” Ungkapnya.

Secara umum, warga Desa Lalemo didominasi petani cengkeh dan nelayan. Sebagian kecil warga terjun di bidang perdagangan dan pertukangan.

Desa Lalemo sebagian besar dihuni oleh Suku Faya dan sebagian Suku Bungku serta serta suku Bajo.

Peliput: Abd Rahman Tanra.
Editor: Dny.

print

Iklan Bupati Muba Cup Prix 2019 Iklan HUT RI Pemkab Morowali Iklan HUT RI Organda

Berita Populer

To Top