Leaderboard Iklan Pekan Daerah KTNA XIII Muba
Berita Utama

Kades Lele: Diduga Ada Aktivitas Pengolahan Limbah Kayu di Zona Pertambangan

MOROWALI, IGLOBALNEWS.CO.ID
Dampak banjir berupa kayu bonggol yang terbawa arus saat banjir bandang yang terjadi pada pekan lalu dan menerpa Desa Dampala dan Desa Lele, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali akan ditelusuri sumbernya oleh warga setempat.

Kayu yang berserakan di Sungai Dampala dan pemukiman warga diduga karena adanya aktivitas pengolahan limbah kayu di zona pertambangan.

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Lele, Junaedin usai melaksanakan Salat Jumat di masjid Desa Lele, Jumat (21/6/2019).

Menurut Junaedin, di wilayah Kecamatan Bahodopi ada perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan, dan tentu ini semua kita sudah dengar dan ketahui bersama.

Dikatakannya, “Kami dari pemerintah desa telah membangun komunikasi dengan pihak perusahaan lewat humas, untuk sama-sama melihat lokasi kegiatan pertambangan mereka.”

“Memang kalau kita melihat kayu yang terbawa banjir memang nampaknya dari sana,” Ungkapnya.

“Saya berharap perusahaan bisa pro aktif dengan kami dan tentu ini sebagai tolak ukur kita semua agar sumber daya alam kita dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan bencana,” Tuturnya.

“Kita juga harapkan kehadiran perusahaan, namun kita juga harapkan kehadiran mereka bukan hanya menggali sumber daya alam kita lalu nyawa kami tergadaikan,” Tandasnya.

Ia menegaskan, “Kehadiran perusahaan diharapkan bisa membangun wilayah ini bersama secara bersama-sama, tapi bukan hadirnya mereka justru mengorbankan banyak pihak.”

Setelah kita turun ke lapangan nanti, tentu ada yang harus bertanggung jawab, kepada siapa? Ya, tentu kepada perusahaan yang betul sudah kita lihat bahwa memang dampak dari perusahaan yang melakukan aktivitas,” Terang Kades Lele.

Ia menambahkan,” Penting untuk kita duduk bersama guna bicarakan pokok masalahnya dan tentu ada proses hukum selanjutnya.”

Baca Juga  Ini Petugas serta Jadwal Pemberangkatan dan Pemulangan Jamaah Haji Aceh

“Terkait masalah ini sudah ada undang-undang yang cukup jelas yang mengatur, kalau mereka patuhi maka mereka harus bertanggung jawab. Dengan adanya kejadian ini dan memang benar-benar terbukti dampaknya dari kegiatan mereka, maka perusahaan harus bertanggung jawab,” Tandasnya.

“Dalam waktu dekat ini kami bersama masyarakat tiga desa akan tinjau lokasi penambangan mereka di blok tujuh dan blok delapan. Kami mau memastikan kalau memang kayu berasal dari sana,” Kata Junaedin.

“Kami sudah bersepakat di desa untuk meninjau lokasi dan mungkin kita menggunakan akses sungai kalau perusahaan tidak bisa memfasilitasi. Kami semua berharap perusahaan bisa memfasilitasi, karena kalau masyarakat yang mengambil tindakan tentu akan lain ceritanya. Namun, kalau difasiltasi perusahaan kita bisa duduk bersama mencari solusi,” Tambahnya.

“Selain aktivitas pertambangan, juga ada yang kita klaim ada oknum yang melakukan aktivitas pengolahan limbah kayu di lokasi milik perusahan,” Ujarnya.

“Dan itu sudah bukan rahasia umum lagi bahwa ada kegiatan pengelolaan limbah kayu di lahan perusahaan. Ternyata ada industri pengolahan limbah kayu masuk di zona pertambangan,” Urainya.

“Menurut aturan tidak dibenarkan mengelola kayu di areal pertambangan, mereka harus keluar dari zona pertambangan,” Sebutnya.

“Oknum yang diduga melakukan aktivitas tersebut diduga karyawan perusahaan PT Bintang Delapan Mineral (BDM),” Ungkap Kades Lele.

Peliput: Abd Rahman Tanra.
Editor: Dny.

print

Iklan Pekan Daerah KTNA XIII Muba

Berita Populer

To Top