Leaderboard Iklan Bupati Muba Cup Prix 2019 Iklan HUT RI Dinas Bina Marga
Jawa Tengah

Dari Cilacap untuk Jawa Tengah

JAWA TENGAH, IGLOBALNEWS.CO.ID – Akhir-akhir ini Jawa Tengah makin riuh, provinsi yang masyarakatnya biasa adem ayem dibuat gaduh oleh orang tak bertanggung jawab maupun pemerintahnya sendiri yang salah persepsi terhadap kebiasaan masyarakat penuh keramahan ini.

Kegaduhan yang membuat masyarakat cukup resah di antaranya ialah peristiwa pembakaran mobil, maupun sepeda motor yang dilakukan oleh orang tak dikenal.

Kegaduhan ini seperti sengaja diciptakan guna membuat keresahan, hal itu juga setelah ditelisik dalam setiap kejadian pembakaran tidak ada motif ekonomi semisal pencurian ataupun perampasan.

Seperti disampaikan Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol. Condro Kirono dalam liputan kompas.com tanggal 01/02/2019 lalu, “Beberapa kejadian pembakaran tidak ada latar belakang faktor ekonomi karena tidak ada barang yang dicuri, tidak ada dendam pribadi, karena warga baik-baik dan tidak ada yang punya musuh”.

Yang kedua ialah tingginya persebaran hoaks di masyarakat, hoaks diyakini menjadi salah satu penyebab kegaduhan di masyarakat Jawa Tengah.

Kegaduhan ini cepat menyebar karena sikap masyarakat yang memiliki rasa kepercayaan tinggi akan setiap informasi yang disampaikan oleh orang yang dikenalnya, entah saudara maupun orang yang dikenalnya melalui media, misalkan Whatapp.

Sudah lama rasa percaya dan gotong royong menjadi citra positif masyarakat Jawa Tengah, tetapi hal itu juga yang menyebabkan mudahnya hoaks menyebar dan dipercayai masyarakatnya yang terbilang tak seramai Jawa Barat maupun Jawa Timur.

Kedua sebab kegaduhan di atas melegitimasi bahwa Jawa Tengah tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya itu menurut Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, seperti yang beliau sampaikan guna menjawab alasan diselenggarakannya “Apel Kebangsaan: Kita Merah Putih” yang diselenggarakan 17 Maret 2019 lalu di Simpang Lima Semarang.

Baca Juga  Menatap Masa Depan Bangsa Melalui Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Namun, saat ini yang menjadi pertanyaan ialah, seberapa tepatkah jawaban Gubernur Ganjar guna menjawab kegaduhan di atas dengan menyelenggarakan kegiatan apel kebangsaan.

Diketahui, anggaran kegiatan menghabiskan Rp18 milyar dari APBD, yang pada faktanya masyarakat justru banyak meributkan penggunaan dana APBD sebesar itu.

Hal ini apakah malah justru Gubernur Jawa Tengah memunculkan sebab ketiga dari makin riuhnya Provinsi Jawa Tengah?

Jika saja Gubernur Jawa Tengah ingin mengademkan masyarakatnya, dengan anggaran tersebut, Gubernur Ganjar bisa saja membelanjakan Rp18 milyar tersebut untuk memborong Dawet Ayu Banjarnegara.

Dengan dana itu cukuplah untuk mentraktir warga Kabupaten Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purbalingga, Tegal, Brebes dan Pemalang, dengan menyelenggarakan acara bertajuk “Jateng Gayeng, Dawet Ayu Perekat Ngapaker”.

Itu pun masih bisa ditambah mendoanan, yang kedua makanan tersebut jelas jelas rantai produksinya menyentuh masyarakat bawah, bukan memuaskan nafsu berglamour ria yang sebenarnya jauh dari kepribadian masyarakat kita yang ramah dan santun dalam balutan budaya, bukan berjoget-joget ria dengan dentuman musik keras dan menggema.

Masyarakat Jawa Tengah harus disentuh dengan kebudayaan, budaya yang tetap mempertahankan kepribadian Jawa Tengah yang santun dan ramah. Maka dari itu cara menciptakan dan merawatnya lebih baik dengan menjauhkannya dari sikap hidup yang berlebih-lebihan, mengedepankan adat dan istiadat, menggalakkan gotong royong, serta menjaga keamanan di dalam masyarakat.

Setidaknya menurut penulis, persepsi Gubernur Ganjar kali ini salah, dalam segi budaya, belum lagi segi pemanfaatan anggaran, masih banyak daerah di Jawa Tengah yang infrastruktur jalan maupun pertaniannya buruk.

Dilihat juga dari sisi politis, setidaknya dapat dilihat sensitivitas program pemerintah yang disinyalir menguntungkan pihak tertentu dapat dihindari karena dapat memicu keretakan di masyarakat, apalagi di masa-masa itu.

Baca Juga  Pj Gubsu Hadiri Rakor Pusda di Yogyakarta, Pengembangan Pariwisata Sumut Butuh Dukungan Pusat

Efektifitas dan efisiensi anggaran yang berorientasi pada hasil kerja sejalan dengan semangat transparansi yang semakin baik diterapkan di Jawa Tengah semasa Gubernur Ganjar menjabat apalagi di periode yang ke-2 ini.

Dalam periode kedua ini, seharusnya Pak Gubernur dapat lebih mengenal rakyatnya, menkomparasi kebutuhan rakyat dengan program-program kerja pemerintah, prinsip pemberdayaan masyarakat kunci suksesnya pembangunan yang diamini masyarakatnya, karena sering kali kualitas proyek pemerintah sangat buruk.

Hal ini disinyalir pembangunan tidak melibatkan masyarakat sekitar sehingga munculnya sikap apatis masyarakat terhadap kualitas proyek.

Maka siapa yang disalahkan? Tentu hal ini dapat dicegah bilamana pemimpinnya kenal dan dekat dengan rakyatnya.

Semangat transparansi yang digalakkan Gubernur Jawa Tengah sebenarnya patut diapresiasi, sebagaimana disampaikan Gubernur Ganjar saat menjawab kritik pengunaan dana apel kebangsaan mengatakan, Jumat (15/3/2019).

“Kami sangat transparan, maka siapapun bisa melihat. Soal tidak sepakat dengan jumlah monggo. Tapi, kami harus menghadirkan seluruh masyarakat di Jawa Tengah,” Ujarnya.

Dalam sistem demokratis “power of the people” mengartikan bahwa kekuasan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka pelibatan diri masyarakat dalam pemerintahan merupakan suatu keharusan, bila ingin latar belakang pemilihan sistem demokratik yang menghargai rakyat dapat berjalan.

Maka “penggalakan transparasni” bukan suatu bonus, melaikan itu keharusan pemerintah, walaupun banyak provinsi lain yang terbilang masih tertutup, apalagi yang menyuarakan transparansi itu sendiri karena banyak isu korupsi balik modal pejabatnya mungkin.

Maka sebenarnya transparasi oleh Gubernur Ganjar tentu bukan suatu prestasi juga yang patut untuk diapresiasi, Gubernur Ganjar masih memiliki kewajiban agar sistem demokratik benar-benar berjalan baik, yaitu menjaga sistem dan memperbaikinya terus serta meningkatkan partisipasi publik terhadap pemerintah agar masa depan Jawa Tengah Semakin Bercahaya.

Baca Juga  Ratusan Santri MA NU TBS Ikuti Pembekalan Materi Soft Skill

Penulis: Sarif Hidayat.
Editor: Dny.

print

Iklan Bupati Muba Cup Prix 2019 Iklan HUT RI Pemkab Morowali Iklan HUT RI Organda

Berita Populer

To Top