Papua

Dorong Partisipasi Publik, Guru Tugas di Pedalaman Ingin Semua Pihak Perhatikan Pendidikan di Papua

PAPUA, IGLOBALNEWS.CO.ID – Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) adalah salah satu Program Pemerintah Kabupaten Mappi yang bekerja sama dengan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan salah satu universitas ternama di Indonesia.

GPDT ini diselenggarakan guna menjawab tantangan percepatan pemberantasan buta huruf dan layanan pendidikan khususnya di daerah terpencil.

Kurangnya pelayanan pendidikan oleh pemerintah setempat karena keterbatasan sumber daya manusia dan sulitnya aksesibilitas. Mappi menjadi salah satu tempat tujuan program ini.

Hal ini melihat banyaknya anak-anak yang memiliki animo tinggi untuk belajar dan kurangnya jumlah pengajar yang ada di daerah tersebut, tercatat jumlah siswa di Kabupaten Mappi sejumlah 30.000 siswa. Berbanding terbalik dengan ketersediaan guru yang mengajar.

Contohnya sekolah di Kampung Toghompatu Distrik Passue, sekolah yang memiliki siswa sebanyak 49 orang (kelas 1 – 6) ini saat sebelum GPDT hadir hanya terdapat 1 guru honor saja. Saat ini bersama dua guru bantu sekolah dapat aktif kembali.

Perihal tentang kondisi pendidikan ini disampaikan Kepala dinas Kabupaten Mappi Dra. Maria Goreti Letsoin, ia mengatakan, “Anak-anak Mappi sebenarnya memiliki kemampuan dan daya serap yang tinggi, sama halnya dengan anak-anak lain yang berada di luar sana.”

“Hanya saja, ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa pendidikan di Kabupaten Mappi masih rendah. Salah satunya adalah kurangnya tenaga pengajar yang ada di pedalaman-pedalaman papuaā€¯, Katanya.

Maka melihat realitas itu, Program GPDT Mappi menjadi jawaban dan harapan bagi Pemerintah Kabupaten Mappi untuk segera menuntaskan permasalahan pendidikan bagi masyarakat Kabupaten Mappi.

Efendi S. adalah salah satu peserta GPDT MAPPI 2018 asal sulawesi Tengah yang bertugas sebagai guru di SD Inpres Tohompatu yang terdapat di Kampung Toghompatu Distrik Passue, mengatakan keminatannya berpartisipasi dalam memuntaskan masalah pendidikan di Kabupaten Mappi.

Baca Juga  Dalam Memperkuat Sinergitas dengan OPD, Dindikbud Banten Tingkatkan Pengelolaan Dana Bos

“Setelah 6 bulan mengajar di sekolah tersebut, banyak hal yang membuat saya harus bisa menjadikan anak-anak di pedalaman Papua memiliki rasa ingin tahu yang kuat dalam bidang pendidikan dan harus bisa menjadi anak-anak yang bisa dibanggakan. Oleh karena itu, anak-anak yang berada di pedalaman Papua bisa menjadi anak-anak yang bisa diandalkan dalam kualitas pendidikan,” Ujarnya.

“Saat ini kami memerlukan bantuan semua pihak terkait kendala sarana dan prasarana pendidikan, di antara kebutuhan itu antara lain; seragam sekolah, buku bacaan, buku pelajaran, alat tulis, sepatu dan kebutuhan alat peraga,” Tambahnya.

Ia juga menambahkan, “Dengan melihat semangat dan antusiasme siswa untuk belajar, kami juga perlu fasilitas belajar untuk menambah variasi dalam pengajaran.”

Efendi menyampaikan, “Saat ini, semua orang di seluruh Indonesia dapat turut berpartisipasi secara mudah dengan memanfaatkan fasilitas layanan kiriman gratis dari Kantor Pos yang dilakukan setiap tanggal 17 pada bulan berjalan. Kami berharap senergitas semua pihak dapat mempercepat proses pengentasan pendidikan serta meningkatkan kelayakan sarana dan prasaana pendidikan,” Katanya.

“Saya ingat betul saat peserta didik saya tetap belajar walaupun tanpa sepatu, seragam dan alat tulis, sedang kalau kita melihat di kota begitu banyak kita menyia-nyiakan itu semua,” Imbuh dia.

Penulis: Krishuda.
Editor: Dny.

print

Berita Populer

To Top