Serang

Miris, Perselingkuhan via Medsos Dominasi Kasus Perceraian di Serang

Perselingkuhan

Serang – iGlobalNews | Kedamaian dalam menjalankan biduk rumah tangga dan mengarungi samudera kehidupan dengan penuh nuansa keharmonisan merupakan hal yang terindah bagi setiap pasangan suami istri di dunia ini.

Namun, hal terindah tersebut harus kandas diterpa badai dan berakhir terdampar dalam sebuah perceraian yang berdampak meninggalkan luka dan derita baru bagi pasangan maupun keturunan atau anak.

Dari pantauan awak media di lokasi, seperti salah satu potret kepiluan tersebut terlihat salah satu ibu muda anak satu, Yuli (29) asal Serang Banten. Yuli sedang menunggu jadwal antrian, dalam rangka menggugat cerai suaminya di PN Agama Serang Banten. 

Disebabkan banyak faktor (tak mau menyebutkan karena baginya sebuah aib), ia menjelaskan keputusannya menggugat cerai suami, “Karena sudah tiadanya kecocokan dan Sudah tidak ada persamaan” katanya.

Hal senada disampaikan Chacha (22) wanita muda yang mengaku belum memiliki anak ini menyampaikan keputusannya untuk mengakhiri mahligai pernikahannya tersebut di sela-sela menunggu antrian sidang.

“Sudah tidak ada persamaan lagi bang, dan mungkin Tuhan hanya mempertemukan, namun tak mempersatukan kami lagi,” ujarnya polos dan dramastis.

                                                

Masih di tempat yang sama bagian informasi Pengadilan Agama Serang menjelaskan, cukup menyayangkan naiknya grafik kasus perceraian di tahun 2017 yang hampir menyampai 100% di banding tahun 2016. 

Selain karena faktor ekonomi, didominasi kasus lainnya seperti perselingkuhan via media sosial.

“Kami sangat menyayangkan meningkatnya kasus perceraian yang naik hampir 100% di tahun 2017 dibanding tahun 2016, dan penyebab kasus perceraian selain faktor ekonomi di dominasi perselingkuhan via media sosial, dan dominan pasangan muda,” ujarnya.

Media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain merupakan suatu akses memudahkan publik dalam menjangkau pertemanan yang luas di dunia maya, namun sebagai publik di era digital seperti saat ini, kita pun harus bijak menggunakan agar tidak mudah terpengaruh dan dapat menyikapi hal hal positif yang membangun serta meninggalkan jika ada hal hal negatif yang berdampak tak elok ke depannya.(SARIMAN).

print
To Top