DKI

Tokoh Lintas Agama Nonton Bareng dan Diskusi Film “The Imam di Gereja Hati Kudus Jakarta

agama

Jakarta – iGlobalNews | Kamis (19/10/2017), Nonton bareng dua tokoh agama di Nigeria yang berjudul “The Imam and The Pastor” di Aula Gereja Hati Kudus Kramat Jakarta diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dan banyak negara.

Dua tokoh itu tak lain adalah Muhammad Ashafa dan Pastor James Wuye adalah pemimpin agama yang tinggal di Kaduna, sebuah kota di Nigeria Utara.

Dalam film dokumenter tersebut mereka bekerja sama untuk mengajarkan milisi pemuda religius yang berperang untuk menyelesaikan konflik mereka secara damai.

Mereka berdua tidak secara tiba-tiba menjadi pembawa damai. Sepuluh tahun yang lalu, Imam Ashafa dan Pastor James adalah musuh bebuyutan, yang bermaksud membunuh satu sama lain atas nama agama.

Pada tahun 1992, konflik antar agama yang penuh kekerasan terjadi di Negara Bagian Kaduna. Orang-orang Kristen dan Muslim saling bertempur di pasar, menghancurkan tanaman masing-masing dan saling menyerang keluarga masing-masing. Baik Imam maupun Pendeta ditarik ke dalam pertempuran, dan keduanya membayar harga yang mahal untuk keterlibatan mereka – Imam Ashafa dengan kehilangan dua saudara laki-laki dan gurunya, Pastor James dengan kehilangan tangannya.

Selama beberapa tahun berikutnya, melalui silaturahmi dan pertemuan yang akrab. Dengan menggali kepercayaan betapa pentingnya memaafkan dan berdamai, kedua tokoh agama ini perlahan membangun rasa saling menghormati, dan memutuskan untuk bekerja sama untuk menjembatani perpecahan di antara komunitas mereka.

Pada tahun 1995, Ashafa dan Wuye membentuk Pusat Mediasi Antar Agama, sebuah organisasi akar rumput religius yang telah berhasil dimediasi antara orang Kristen dan Muslim di seluruh Nigeria. Organisasi ini sekarang memiliki lebih dari 10.000 anggota, menjangkau milisi dan melatih pemuda negeri ini – juga wanita, tokoh agama, dan pemimpin suku – untuk menjadi aktivis perdamaian rakyat. Di bawah kepemimpinan mereka, pemuda Muslim dan Kristen bersama-sama membangun kembali masjid dan gereja yang pernah mereka hancurkan melalui perang dan kekerasan.

Baca Juga  ADB Puji Kebijakan Ekonomi Indonesia

Cerita Ashafa dan Wuye ditampilkan dalam dokumenter berjudul The Imam and The Pastor  diproduksi oleh FLT Films dan didukung oleh United States Institute of Peace. Sebuah dokumenter tindak lanjut 2010, An African Answer, mencatat perjalanan mereka sejak dan proses rekonsiliasi mendekati di negara tetangga Kenya.

Kedua tokoh ini telah menginspirasi banyak negara termasuk Indonesia dan berkomitmen untuk Nigeria Damai dengan mendirikan Interfaith Mediation Center.

“Mereka telah berkeliling  ke 60 negara termasuk Indonesia,” ujar dari Direktur PUSAD Paramadina Ihsan Ali Fauzi ke awak media, Kamis (19/10).

Pemikir muslim ini mengajak umat Kristen dan Muslim di Indonesia untuk memetik pelajaran agar pertikaian bernuansa agama tidak terjadi di Indonesia.  Satu hal yang paling penting, kata Ihsan, kedua tokoh agama di dalam film ini menyadari sepenuhnya apa yang selama ini salah jalan.  Ajakan dan kotbah yang mengajak berperang ternyata tidak membawa kebaikan.

Hal senada juga disampaikan Pastor Paroki Hati Kudus Kramat Jakarta Yustinus Agus Setiadi, yang menyatakan perlu dibangun silaturahmi yang erat antar lintas agama untuk menciptakan kedamaian dan menghindarkan kekerasan berlabel agama.

Hadir di dalam nonton bareng dan diskusi ini sejumlah penonton dari kalangan termasuk tokoh agama Katolik di antaranya Eddy Susanto, Budhi Hendarto, Kinsey dan sejumlah aktifis lintas agama dan penggiat kebangsaan dari UI.

Di sel-sela akhir acara, Panitia penyelenggara Nonton Bareng film The Imam and The Pastor, Nyonya Veronica Maria menjelaskan dan mengajak seluruh tokoh Agama di NKRI untuk menjaga toleransi beragama, dan saling mengenal dan duduk bersama dalam menciptakan Toleransi serta menjalin Persatuan dan Kesatuan.

“Hadir semua tokoh lintas Agama ,dengan pemutaran film ini bisa menjadi motivasi dan ajang mengenal satu sama lainnya serta mewujudkan Toleransi antara umat beragama” ucapnya.

Baca Juga  Lansia Menuntut Keadilan Tentang Dana BLT (Bantuan Langsung Tunai)

Veronica Maria berharap dengan pemutaran film tersebut bisa menjadi motivasi untuk daerah lainnya di NKRI. Semua elemen agama yang sudah di akui Negara bisa berdampingan dalam damai dengan asas Pancasila.

“Bisa dicontoh daerah lainnya sekaligus menangkal isu Sara, etnis, yang akhir ini marak di Medsos, serta mengharapkan semua elemen agama yang sudah di akui Negara ini, bisa selalu rukun damai berdampingan dalam asas Pancasila. Kami rencananya setiap bulan akan memutar dan berpindah-pindah  ke tempat tempat ibadah lainnya ” pungkas sosok  wanita ramah, yang mengaku salah satu aktivis HAM ini.

Sementara itu salah satu pengunjung nobar Ny. Katarina Tiara,  menyampaikan sangat terinspirasi dan mengapresiasi pemutaran film atau acara Nobar film tersebut.

“Saya sangat apresiasi pemutaran dan nonton bareng film ini,benar benar sangat menginspirasi saya dan rekan rekan lainya” ujar sosok wanita yang terkenal ramah dan sosial oleh rekan sejawatnya ini.(by).

print

Berita Populer

To Top