Leaderboard Iklan Pekan Daerah KTNA XIII Muba
Sumatera Selatan

Barang Bekas Disulap Jadi Bernilai Tinggi

PALEMBANG, IGLOBALNEWS.CO.ID – Septiana (30 tahun) beserta ibunya, Ayu Ani (57 tahun), satu keluarga yang beralamat di Jalan Terusan 1 RT/RW 46 Kelurahan 5 Ulu Darat Kecamatan Seberang Ulu 1 Kota Palembang ini pekerjaannya adalah mendaur ulang limbah busa dari sampah pengrajin kursi di daerahnya.

Keluarga ini mengubah limbah busa menjadi barang yang bermanfaat dan menguntungkan. Dengan memanfaatkan limbah busa sisa pembuatan kasur spring bed dan kursi yang didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomis, seperti  bantal dan guling.

Limbah busa tersebut dibelinya lansung dari pengrajin di seputar tempat tinggalnya.

Proses pembuatan produknya sepintas tampak mudah, Septiana  yang awalnya membantu meneruskan usaha ibunya ini hanya butuh keahlian menjahit, perapihan pengemasan sehingga menjadi bantal, guling dan batal yang siap dipasarkan.

“Limbah dari pengrajin kursi mebel dibelinya dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 9 ribu hingga Rp 15 ribu tergantung bahan dan kualitasnya,” ujar Umar saat ditemui di kediamannya, di Jalan Terusan 1 Kelurahan 5, Senin (02/10/2018) siang.

Pemasaran produk industri rumahan buatan Septiana ini memang masih di sekitar Pasar 16 Ilir saja.

“Pesanan ada, kadang 100 bantal guling, 1 minggu nggak tentu juga tapi ada aja. Tapi ada sih pengrajin lainnya mah yang sudah ngirim ke Lampung dan Pelembang. Empat bantal dihargai Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu,” terangnya.

“Bisa ngejahit belajar sendiri aja, turun temurun sih dari orang tua saya dulu kerjanya begini. Kalau dulu kan kapuk, kalau sekarang karena kapuk sekarang susah carinya dan mahal jadi ya busa ini,” kata Septiana.

Ia menambakan juga di samping membuat bantal dan kasur, keluarga ini juga mempunyai keahlian membuat lampu centil/colok dari kaleng semprotan baygon/cat sejenisnya yang telah dibuang.

Baca Juga  Setda Muba H.Rusli Memimpin Rapat Peserta Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Tahun 2019

Di tangan keluarga ini bahan bahan tersebut bisa menjadi nilai jual.

Untuk bahan mereka mengambil/membelinya dari pemulung dan agen-agen dengan harga per kaleng dibeli Rp 300.

Dalam satu minggu, ia bisa menghasilkan 40 kodi, dan per kodinya itu dijual degan harga Rp 25000.

“Kami pernah dengar ada namanya LKM. Apa itu kami nggak tahu artinya, tapi katanya buat pinjaman modal usaha kecil. Kami memohon agar pemerintah memberikan modal buat usaha kami,” kata Septiana.

Sementara, warga di seputaran tempat tinggalnya saat dimintai tanggapannya mengapresiasi usaha tetangganya tersebut.

Penulis: Danial/Rohmadi.
Editor: Dny.

print
Iklan Pekan Daerah KTNA XIII Muba Iklan Ucapan Id PDAM Iklan Ucapan Id Pemkot Gunungsitoli Iklan Ucapan Idul Fitri Dinas Perkim dan Pemakaman Kab Tangerang Iklan Ucapan Puasa PT IMIP Iklan Ucapan Puasa Penasehat Hukum iglobalnews Iklan Ucapan Idul Fitri SMAN 8 Kota Tangerang Iklan Ucapan Puasa Dinas Bina Marga Iklan Ucapan Puasa Dinas Tata Ruang Iklan Ucapan Puasa Yayasan YPR Iklan Ucapan Puasa Desa Muara Pemuat Sarolangun

Berita Populer

To Top