Leaderboard
Opini

Bincangan Kemerdekaan dari Desa.

Kemerdekaan dari Desa

TANGERANG SELATAN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Kibarannya membanggakan tegar diujung bambu menyatu dengan hembusan angin yang kencang. Merah putih berkibar gagah di depan rumah bilik. Rumah yang reot kecil, alasnya tanah dan atapnya genting berlumut. Di tepi sungai tak jauh dari sungai cidurian. Rumah yang kumuh tanpa polesan material mewah. Pemiliknya jelas masih miskin. Tapi dengan semangat nya dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi para masyarakat sekitar yang hilir – mudik pergi ke kali untuk beraktifitas, kami juga pemilik sah Republik ini, dan kami percaya di bawah bendera yang gagah berkibar ini suatu saat nanti kami juga akan sejahtera!.

Keadaan saja yang miskin tapi tetap nyatakan cinta dan bangga pada negerinya. Kesaharian hidupnya mungkin sulit, mungkin serba kering nan kerontang. Apalagi tabungan di bank mungkin tidak ada, tapi tabungan kecintaannya pada Republik ini luar biasa agungnya. Negeri ini harus dicintai dan dibanggakan. Rakyatnya cinta tanpa syarat. Sekian kalinya bulan agustus ada rasa bangga. Kemerdekaan diongkosi dengan perjuangan. Di tiap hembusan napas anak bangsa saat ini, ada tanda pahala para pejuang , para perintis kemerdekaan yang mulia.

Jangan pernah terlupakan bahwa saat merdeka mayoritas penduduknya serba sulit. Hanya 5 % rakyat yang melek huruf. Siapapun hari I ni, jika menengok ke masa lalunya maka masih jelas terlihat jejak ketertinggalannya adalah bagian dari sejarah keluarganya. Kemiskinan dan keterbelakangan adalah seragam bersama di masa lalu. Republik ini tegar didirikan bukan sekedar untuk menggulung kolonialisme tapi untuk menggelar keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Republik hadir untuk melindungi, mensejahterakan, dan mencerdaskan rakyatnya serta berperan dalam tataran dunia.

Baca Juga  Balai Kota Tangerang Selatan Didemo (Lagi)

Isi pembukaan UUD 1945 selama ini diartikan sebagai cita-cita.

Cita-cita kemerdekaan adalah kata kunci palinmg tersohor. Istilah ini sudah amatlah jamak dipakai untuk mengilustrasikan harapan dan tujuan republik ini. Tapi ada ganjalan fundamental disini. Kemerdekaan perlu beri ekspresi yang lebih fundamental, bukan sekadar bercita-cita. Lewat kemerdekaan, hakekatnya Republik ini berjanji. Narasi di Pembukaan UUD 1945 bukanlah ekspresi cita-cita semata, tapi itu adalah janji. Pada setiap anak bangsa dijanjikan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan bisa berperan di dunia global. Republik ini dibangun dengan ikatan janji!

Cita-cita itu adalah harapan, dan ia bisa tidak mengikat. Secara bahasa cita-cita itu bermakna keinginan (kehendak) yg selalu ada di dalam pikiran atau dapat juga diartikan sebagai sebuah tujuan yang hendak dilaksanakan. Bila tercapai cita-citanya maka akan disyukuri. Tapi, jika tidak tercapai maka cita-cita bisa direvisi. Ada komponen ketidakpastian yang abstrak pada kata cita-cita. Indonesia hadir bukan sekadar untuk sesuatu yang didalamnya mengandung komponen yang belum tentu bisa dicapai. Sudah saatnya tidak lagi menyebutnya sebagai cita-cita tapi mulai menyebutnya sebagai Janji Kemerdekaan.

Berbeda dengan cita-cita, sebuah janji adalah kesediaan, kesanggupan untuk berbuat, untuk memenuhi dan untuk mencapai. Janji adalah hutang yang harus dilunasi. Janji memberikan komponen kepastian. Janji itu kongkret. Janji tidak abstrak dan uncertain. Republik ini bukan sekadar bercita-cita tapi berjanji mensejahterakan dan mencerdaskan tiap anak bangsa.

Hari ini janji itu telah dilunasi bagi sebagian rakyat. Sebagian rakyat sudah tersejahterakan, tercerdaskan, terlindungi dan bisa berperan di dunia global. Mereka sudah mandiri. Mereka tak lagi tergantung pada negara mulai dari soal kehidupan ekonomi keseharian, pendidikan, sampai dengan kesehatan. Ya pada mereka, janji kemerdekaan itu sudah dibayar lunas. Tapi masih jauh lebih banyak yang kepadanya janji itu belum dilunasi.

Baca Juga  PKS Tangsel Bantah Dukung Khilafah Islamiyah

Bangsa ini perlu melihat usaha mencerdaskan dan mensejahterakan bukan sekadar meraih cita-cita tapi sebagai pelunasan janji kemerdekaan. Pelunasan janji itu bukan cuma tanggung-jawab konstitusional negara dan pemerintah tapi juga tanggung jawab moral setiap anak bangsa yang kepadanya janji itu telah dilunasi: telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Jangan lupa dahulu seluruh rakyat sama-sama miskin, buta huruf, terjajah dan terbelakang. Mayoritas mereka yang hari ini sudah tersejahterakan dan tercerdaskan mendapatkannya lewat keterdidikan. Pendidikan di Republik ini adalah eskalator sosial ekonomi; keterdidikan mengangkat derajat secara kolosal jutaan rakyat untuk mendapatkan yang dijanjikan: tercerdaskan dan tersejahterakan.

Saat Republik ini didirikan semua turun tangan menegakkan Merah-Putih, menggulung kolonialisme. Ada yang sumbang tenaga, harta dan banyak sumbangannya nyawa. Mereka menegakkan bendera tanpa minta syarat agar anak-cucunya nanti lebih sejahtera dari yang lain. Semua paham adanya janji bersama untuk menggelar kesejahteraan bagi semua. Itu bukan sekadar cita-cita. Kini bendera itu sudah tegak, makin tinggi dan dibawah kibarannya, janji kemerdekaan harus dilunasi untuk semua.

Bayangkan di desa kecil pinggiran kota, di rumah kayu ala kadarnya. Kabel listriknya berseliweran dipakai gantungan dan aliran listrik lampu kecil. Dibawah sinar lampu seadanya beberapa orang bersila diatas tikar membincangkan rencana perayaaan kemerdekaan di kampungnya. Mereka belum sejahtera dan mereka akan rayakan kemerdekaan !

Tidak pantas rasanya terus menerus merayakan kemerdekaan sambil berbisik memohon maaf bagi mereka yang belum terlindungi, belum tercerdaskan dan belum tersejahterakan. Bangun kesadaran baru bahwa usaha ini sebagai pemenuhan janji. Sebagai janji ia mengikat, bisa mengajak semua ikut melunasinya dan agar semua lebih yakin bahwa janji itu untuk dilunasi. Perayaan kemerdekaan bukan sekadar pengingat gelora perjuangan. Merayaan kemerdekaan adalah meneguhkan janji.

Baca Juga  Cagub Jabar TB Hasanuddin, Kolonel Yang “Menjinakkan” Jenderal Prabowo

Biarkan pemilik rumah batu itu menerawang kibaran Merah-Putih di rumahnya sambil senyum membayangkan bahwa dia dan anak-cucunya akan tersejahterakan dan tercerdaskan. Semua bangga jika perayaan Kemerdekaan adalah perayaan lunasnya janji kemerdekaan bagi tiap anak bangsa.

“Sesuatu Bangsa tidak dapat hidup sempurna,kalau sebagian daerahnya Merdeka dan sebagian daerahnya lagi di perbudak Orang. Merdeka hanya suatu jembatan. Walaupun jembatan emas diseberang jembatan itu jalan pecah dua. Satu kedunia sama rata sama rasa. Satu kedunia sama ratap sama tangis.” Ir. Soekarno.

Penulis: Juno
Editor: Aj

print

Iklan Banunanda Nias Iklan Aceh

Berita Populer

To Top