Leaderboard Selamat Hari Raya Idul Fitri
Opini

Upaya Mengembalikan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Nilai Pancasila

TANGERANG SELATAN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Salah satu pencapaian peradaban yang menjadi doktrin revolusi Indonesia sekaligus pemersatu bangsa Indonesia yakni Pancasila. Sebuah nama yang memiliki lima inti pokok dari pidato sang proklamator Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 yang merupakan suatu hasil penggalian serta pengungkapan pandangan hidup bangsa indonesia sekaligus menjadi dasar falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sejatinya tidak hadir begitu saja sebagai wujud kesepakatan politik belaka. Melainkan suatu nilai yang tumbuh serta berkembang sejalan dengan entitas bangsa Indonesia yang kemudian menjadi negara Indonesia.

Bung Karno sebagai penggali, penemu, serta perumus menyebut Pancasila sebagai “Philosophisce Grondslag”, yakni fundamen, filsafat, pikran yang sedalam-dalamnya, jiwa serta hasrat yang sedalam-dalamnya untuk mendirikan bangunan indonesia.

Bahkan Prof. Mr. Soediman Kartohadiprodjo berpendapat bahwa perbuatan Bung Karno dengan menemukan “lima inti, “lima soko guru”, “lima mutiara”, itu merupakan suatu perbuatan yang genial. Beliau katakan genial, karena menurut beliau Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh besar yang hidupnya berkecimpung dalam bidang kebudayaan bangsa Indonesia, tidak mampu menemukan lima inti-jiwa bangsa Indonesia.

Demikian pun tokoh pemikir internasional, almarhum Prof. Mr. C. Van Vollenhoven yang tidak kurang dari tiga puluh tahun lamanya, juga menopang jiwa bangsa Indonesia dalam penerapannya dalam hukum, Van Vollenhoven yang sudah dapat mengetahui adanya perbedaan yang fundamental antara jiwa bangsa Indonesia dan bangsa Barat, tidak mampu menemukan apa yang menjadi inti pemikiran bangsa Indonesia.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, khususnya dalam pidato lengkap Bung Karno 1 Juni 1945, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka tersebut berdiri di atas ‘Weltanschauung’, seperti halnya filsafat nasional-sosialisme yang telah menjadi dasar negara Jermania yang didirkan oleh Adolf Hitler, begitupun Lenin yang mendirikan negara Uni Sovyet di atas satu ‘Weltanschauung’ yakni Marxistische.

Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas ‘Weltanschauung’, yang bernama ‘Tenoo Koodoo Seishin’. Begitu pun Ibn Saud mendirikan negara Arabia di atas satu ‘Weltanschauung’, bahkan di atas satu dasar agama, yaitu Islam.

Sementara Weltanschauung yang dimaksud Bung Karno bagi Indonesia adalah Pancasila, karena Pancasila lahir berdasarkan pengalaman hidup, sejarah, nasib, dan penderitaan serta cita-cita bangsa Indonesia yang terkandung di dalam kalbunya.

Baca Juga  Pungli Berselimut Sumbangan

Rumusan Pancasila pun secara konstitusional dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar terbentuknya negara Indonesia. Hingga saat ini, Pancasila tetap diterima dan ditempatkan sebagai dasar dan ideologi negara.

Yudi Latif pun menyatakan bahwa sebagai basis moralitas serta haluan kebangsaan-kenegaraan, Pancasila memiliki landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Setiap sila memiliki justifikasi historisitas, rasionalitas dan aktualitasnya, yang jika dipahami, dihayati, dipercaya serta diaamalkan secara konsisten dapat menopang pencapaian agung peradaban bangsa, dan dapat mendekati terwujudnya ‘negara paripurna’.

Tidak hanya sebagai ideologi dan dasar negara, pancasila sebagai pandangan hidup bangsa indonesia yang merupakan pegangan hidup bangsa indonesia yang memberikan dasar, isi, arah, serta tujuan hidupnya.

Sebagai dasar hidup, pancasila memberikan tempat berpijak bagi bangsa indonesia sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh arus pengaruh serta tekanan, dengan pancasila sebagai dasar pegangan hidup, bangsa indonesia menyadari sebagai ciptaan tuhan harus mampu menjalankan perintahnya yang antara lain melakukan sikap berfikir, berbuat serta bertindak dengan menggunakan akal dan perasaanya yang baik untuk mempersatukan diri dengan wujud dan isi hidup dan kehidupan sebagai satu kesatuan suasana yang serasi dan seimbang, namun dalam kaitannya dengan keserasian, keselarasan, serta keseimbangan, bangsa indonesia tidak dibenarkan untuk berbuat semena-mena.

Sehingga pancasila sebagai pandangan hidup bangsa indonesia menjadi tolak ukur setiap perbuatan bangsa di dalam segala aspeknya, baik aspek hidup dan kehidupan yang bersifat pribadi maupun sosial dan kehidupan bernegara.

Sementara itu, Pancasila juga sebagai falsafah negara merupakan salah satu aspek identitasnya yang khusus untuk peri-kehidupan negara Indonesia dengan segala fungsi, ciri, serta tugas dan kewajiban baik terhadap warga negaranya, terhadap negara lain, dan merupakan suatu dasar bagi bangsa Indonesia dalam kehidupan bernegara.

Falsafah sendiri merupaakan berasal dari istilah Yunani yang memiliki makna cinta akan kebijaksanaan. Sekiranya batasan tersebut dapat dipergunakan, maka pancasila sebagai dasar flsafah negara diartikan sebagai landasan kebijakan segenap alat perlengkapan negara sebagai penyelenggara pemerintahan untuk mencapai tujuan negara dan landasan bagi rakyat guna mewujudkan hak kedaulatanya.

Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum indonesia merupakan wujud dalam tertib hukumnya. Sebagai sumber yang berarti sebagai asal, tempat setiap pembentuk hukum di Indonesia mengambil serta menimba unsur-unsur dasar yang diperlukan, dan merupakan tempat untuk menemukan ketentuan-ketentuan yang menjadi sisi dari peraturan yang akan dibuat.

Baca Juga  Korupsi Mengingkari Aturan Agama

Sehingga Pancasila menjadi nilai yang mewarnai hukum nasional Indonesia sekaligus berfungsi sebagai kaidah penuntun yang menentukan arah dan karakteristik hukum nasional.

Realitas Pancasila Yang Mulai Memudar dan Terpinggirkan

Memprihatinkan, idealitas sebuah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai falsafah bangsa serta ideologi negara, yang notabene sebagai landasan sekaligus menjadi orientasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, wujud nyatanya tidak sepenuhnya dapat diilihat dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan Pancasila semakin memudar dari waktu ke waktu.

Begitu banyak konflik dan kekerasan yang datang silih berganti, yang jelas-jelas telah merusak citra bangsa yang dikenal penuh toleransi serta persaudaraan yang kuat. Baik konflik horizontal antar warga, konflik antara masyarakat dengan pemodal, maupun konflik yang bersumber dari perbedaan agama serta keyakinan.

Ditambah lagi muncul gelaja-gejala yang merisaukan dan mengkhawatirkan, dimana hukum lebih sering menampakan sosok keras, hukum lebih banyak menampilkan bentuk pemberian sanksi yang menakutkan, bukan sosok yang memberikan perlindungan, keadilan dan kesejahteraan. Masyarakat disuguhi kasus-kasus perampasan hak, penggusuran, dan lain-lain. Membuat hukum seakan tampil dengan wajah yang berbeda.

Tak pelak timbul pertanyaan, di mana kita menempatkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tersebut? bukankah setiap bentuk konflik yang berujung keekrasan merupakan ciri masyarakat yang tidak ‘beradab’ dan nyata-nyata menciderai prinsip kemanusiaan serta keadilan?

Bagaimana fenomena sosial yang lain yang membuat semua terpana, suguhan media tentang maraknya kasus korupsi yang tiada henti dan begitu sulit untuk memberantasnya, lebih miris lagi kerusakan moral segenap pelajar dan remaja bangsa ini yang semakin hari semakin menejadi. Hal tersebut membuat kita kembali bertanya, kemana nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila yang selama ini menjadi sumber etika serta spiritualitas dasar etik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Realitas-realitas yang terjadi membuat kita semua mungkin mengelus dada, betapa hal tersebut benar terjadi dan menunjukan sebuah kenyataan atas semakin memudar dan terpinggirkanya nilai-nilai pancasila. Ini bukan sekedar ilusi namun benar-benar terjadi. Kita tentu tidak akan membiarkan hal tersebut terus berlarut-larut. Sebab, Pancasila telah menjadi dasar negara ini dan menjadi jiwa bagi bangsa ini, tentu tidak akan bisa berdiri dengan kokoh, kejayaan dan keagunganpun tidak akan pernah dapat terwujud, jika suatu bangsa telah kehilangan dasar serta orientasinya. Yakni pancasila sebagai bintang pemandu.

Baca Juga  Sejumlah Tokoh Populer Rindu Jokowi Bertandem dengan Rizal Ramli di Pilpres 2019

Upaya Mengembalikan Nilai-Nilai Pancasila
Upaya mengembalikan nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan sebuah proses berfikir serta bertindak.

Pertama, Terlebih pada Subyek sebagai pemilik, penghayat, dan pengamalnya, yakni bangsa Indonesia yang menyadari ke-Indonesiaanya. Seseorang yang hanya berkebangsaan Indonesia tanpa menyadarai sifat ke-Indonesiaanya secara utuh, hanyalah warga secara lahiriyah belaka, tanpa memahami isi jiwa bangsanya sendiri.

Kedua, dalam upaya mengembalikan nilai-nilai pancasila merupakan tanggung jawab segenap komponen bangsa, yang tidak hanya dialamatkan kepada warga negara namun juga kepada penyelenggara negara baik tingkat pusat dan daerah.

Ketiga, setiap penyelenggara negara berperan dalam mengembalikan nilai-nilai pancasila dengan mengoperasionalisasikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan serta putusan yang menjadi keweananganya.

Hal tersebut dengan sendirinya akan berdampak pada kesesuaian antara realitas sosial, tindakan negara, serta peraturan perundang-undangan dengan nilai-nilai pancasila. Serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kesadaran masyarakat atas nilai-nilai pancasilaa.

Keempat, dalam pelaksanaan dan penegakan hukum, pancasila harus kembali digunakan sebagai ‘kacamata’ nilai untuk membaca teks hukum dan fakta hukum. Teks dan fakta hukum tidak hanya dibaca dengan kacamata normatif aturan yang kaku melainkan harus dibaca lebih menyeluruh dalam bingkai nilai-nilai yang termuat dalam pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Karena Pancasila berkedudukan sebagai staats fundamental norm.

Bertepatan dengan peringatan 1 Juni sebagai lahirnya Pancasila perlu dijadikan sebuah momentum untuk meresapi kembali nilai-nilai pancasila dan memaknainya dalam tatanan kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan kembali kesadaran bersama dan mengembalikan arti penting pancasila sebagai falsafah bangsa serta ideologi negara.

Mungkin penutup dari tulisan ini kita renungkan kembali petuah Bung Karno sebagai berikut ;

“Marilah kita kembali kepada jiwa-jiwa kita sendiri! Jangan kita menjadi bangsa tiruan! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong royong, jiwa persaudaraan, jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan Pancasila. Hanya Pancasila yangs sesuai dengan jiwa Indonesia.”

Oleh: Athari Farhani.
Sekjend DPC PERMAHI Tangerang & Ketua Bidang Riset Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Tangerang Selatan

align center Selamat Melaksanakan Puasa Ramadhan align center Selamat Melaksanakan Puasa Ramadhan align center Selamat Melaksanakan Puasa Ramadhan

Berita Populer

Selamat Melaksanakan Puasa Ramadhan Selamat Hari Raya Idul Fitri BMSDA Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Kecamatan Bapenda
To Top