Leaderboard
Opini

Idul Fitri, Antara Karnaval Sosial dan Kemenangan Kapitalisme

Idul Fitri

TANGERANG SELATAN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Pada suatu waktu di salah satu bagian dunia, seorang martir revolusi mengobarkan semangat perjuangan di atas mimbar seraya menyerukan “Hasta La Victoria Siempre”. Satu kalimat tersebut kemudian yang menjadi satu ajimat maha sakti dari para pejuang revolusi dalam melancarkan aktivitas – aktivitas perjuangan mereka. Kalimat terebutlah yang mengantarkan para pejuang tersebut untuk sampai pada panggung kemenangan.

Nyatanya, sebelum para pejuang tersebut merevolusi suatu sistem ketatanegaraan dan kepemerintahan yang sudah mapan, yang senantiasa mereka revolusi bahkan sebelum perjuangan itu dimulai adalah revolusi spiritualitas dan mentalitas.

Revolusi spiritualitas dan mentalitas inilah yang menjadi modal awal dari segala bentuk perjuangan. Dengan spirit dan mental yang baik, kemenangan dalam segala lini menjadi sebuah keniscayaan.

Kemenangan bukanlah ukuran dan takaran fisik belaka, kemenangan adalah takaran personal setiap individu. Kemenangan sering juga diartikan sebagai totalitas keberhasilan dari sebuah perjuangan. Maka, pada dasarnya kemenangan tidak bisa dilepaskan dengan perjuangan.

Sehingga, seyogyanya kemenangan tidak mesti diartikan sebagai sebuah perayaan yang seringkali menjadi ajang foya – foya. Kemenangan harus menjadi medium reflektif atas perjuangan yang telah dilakukan.

Begitu pula dengan hari raya Idul Fitri yang diperingati sebagai sebuah kemenangan oleh umat muslim di seluruh dunia. Hari raya Idul Fitri sebagai sebuah kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu keduniawian dan sebagai bentuk penyamarataan rasa terhadap saudara – saudara yang kurang mampu dengan tidak makan dan minum selama satu bulan penuh di siang hari.

Hingga sudah menjadi kewajiban jika hari raya Fitri diperigati sebagai medium reflektif, bahwa kemenangan di hari raya ini adalah kemenangan yang bersifat batin.

Dimensi kemenangan Idul Fitri bukanlah kemenangan fisik yang harus kita tonjolkan dengan pakaian – pakaian baru, ketupat lengkap dengan opor serta bagi – bagi THR. Yang implikasinya bagi masyarakat Indonesia jika satu elemen tersebut tidak terpenuhi di hari raya Fitri, maka kita menganggap belum sempurnalah kemenangan itu. Padahal hasil yang diinginkan setelah berjuang satu bulan penuh di bulan ramadhan adalah menumbuhkan rasa taqwa kepada Tuhan dan kepekaan sosial.

Baca Juga  Cerita Aktivis Jalanan Menuju Aktivis Senayan

Kapitalisme Religiusitas
Sebagaimana kemenangan di hari raya Fitri adalah kemenangan berdimensi spiritual, maka perjuangan di bulan puasa haruslah perjuangan yang sifatnya juga spiritual. Bulan puasa sebagai ajang melatih diri dari hawa dan nafsu yang berlebihan, justru pada kenyataan menjadi sebaliknya.

Kebutuhan pokok dan konsumsi rumah tangga yang seharusnya berkurang di bulan puasa malah meningkat berkali – kali lipat. Padahal Nielsen melansir hasil survey global yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan konsumen paling optimis dengan urutan ketiga di dunia, sehingga bisa ditebak dalam kondisi diatas permintaan (konsumerisme) meningkat signifikan selama bulan ramadhan.

Jika kita cermati, eksposur pertumbuhan ekonomi musiman ini bersifat semu karena sebagian besar hanya dinikmati perusahaan – perusahaan besar (padat modal) sedangkan masyarakat kelas bawah hanya menjadi bahan eksploitasi.
Anekdot bahwa bulan ramadhan adalah bulan menghabiskan rupiah setelah sebelas bulan bekerja menjadi kenyataan. Ramadhan menjadi bulan konsumtifisme blak –blakan. Ironis.

Hal ironis lainnya terjadi di layar – layar kaca rumah kita, di televisi. Serbuan iklan televisi sangat menggoda khalayak selama bulan ramadhan sebab di atur senada dengan euforia religiusitas, variabel penting yang memuluskan kapitalisme.

Siklus tahunan, belanja iklan mencapai puncaknya di bulan ramadhan dengan memanfaatkan premium time seperti menjelang dan setelah berbuka serta saat sahur. Menurut Nielsen Media Research, jumlah penonton televisi pukul 02.00 sampai 06.00 di bulan – bulan biasa hanya 707 ribu.

Pada bulan ramadhan naik hingga 752 persen menjadi 5,22 juta pasang mata. Acara – acara televisi dirombak dan disulap dengan “semprotan berbau” agama menggandeng produk makanan, minuman, pakaian, operator seluler serta kebutuhan – kebutuhan rumahan lainnya. Ceramah agama bahkan menjadi peluru kapitalisasi. Durasi iklan kadung lebih panjang dari pada nasihat sang mubaligh. Jadilah tontonan kita sesak dengan komersialisasi ketimbang nilai.

Baca Juga  HMI FT Unpam Galang Dana Gempa NTB

Parahnya, fenomena religionomic menciptakan disparitas harga bahan – bahan pokok yang menjulang menambah kesengsaraan kaum miskin hingga titik nadir. Fenomena religionomic secara filosofis dapat digambarkan sebagai suatu keadaan di mana para pelakunya bertindak layaknya germo dan pelacur, yang menggunakan trik – trik dan rayuan – rayuan manipulatif untuk mengkomersialisasikan simbol – simbol dan term – term keagamaan serta meanfaatkan untuk tujuan komersil.

Semua kegairahan, semangat, kesenangan, dan luapan hasrat keagamaan di ruang publik semata – mata demi memperoleh niai tambah ekonomis. Fenomena religionomic, dengan kata lain adalah kapitalisme yang bercumbu mesra dengan agama.

Idul Fitri : Ritual Dahaga Nilai
Dekade belakangan ini, segala bentuk dan tanda yang muncul di hapadan kita kehiangan ontologisnya. Sehingga, tentu kitapun kehilangan orientasi tujuan dari “apa yang hadir”. Hilangnya logos (pusat dalam arti bahasa) dari puasa dan idul fitri bukanlah terjadi karena kelalaian umat Islam sendiri.

Jika kita bertanya pada Herbert Marcuse, Ia pasti langsung menuding bahwa kapitalisme aktor utamanya. Hal ini dapat dilihat dari genealogi tulisan Marcuse. Ia menjelaskan bahwa eksploitasi kemanusiaan dan nilai (value) yang dilakukan oleh kapitalisme adalah usaha terselubung yang laten, dimana ujung dan pangkal dari upaya tersebut adalah reproduksi kesadaran palsu.

Lebih lanjut, Marcuse menjelaskan bahwa kita diinfiltrasi melalui budaya, lalu simplifikasi darinya merupakan penguasaan atas bahasa. Bahwa, pemikiran kita dibentuk dengan “keinginan” dan “menjadi”. Dalam filsafat, hasrat kita di daur ulang untuk menginginkan sesuatu yang tidak kita butuhkan agar menjadi identik dengan simbol yang diasosiasikan pada komoditi tersebut. Misal, berbuka puasa bersama keluarga dan teman manjadi hambar tanpa hadirnya Coca Cola.

Baca Juga  Renungan Akhir Tahun

Pada akhirnya, kondisi seperti ini menafikan esensi kemanusiaan yang tersirat dalam agama itu sendiri. Ramadhan sebagai wahana untuk menahan hawa nafsu dan Idul Fitri adalah bentuk kemenangannya, menjadi tak bermakna. Beberapa tahun belakangan, tempat – tempat hiburan, tempat – tempat makan ditutup secara paksa oleh berbagai oraganisasi kemasyarakatan radikal yang dilegitimasi oleh ambivilensi kekuasaan dan status quo. Mereka berteriak – teriak atas nama tuhan, lantas kemudian memukuli orang yang sedang makan secara barbar dan menutup paksa warung yang kebetulan buka di siang hari.

Angka kriminalitas meningkat selama bulan puasa terutama minggu – minggu terakhir mendekati Idul Fitri. Mulai dari yang paling ringan, berupa pencurian sandal di masjid, pencopet, penghipnotis yang berkeliaran di terminal – terminal, hingga perampokan rumah – rumah kosong yang ditinggali mudik oleh penghuninya. Yang ironis adalah motif sebagian besar pelaku kriminalitas tersebut yaitu untuk pemenuhan kebutuhan keluarga di hari raya, atau bahkan sekadar ongkos untuk mudik.

Bahkan ada juga yang secara sadar meminjam uang kepada kerabat, tetangga dan temannya untuk keperluan – keperluan tersebut, padahal ia sendiri sadar bahwa ia tidak akan mampu mengembalikan pinjamannya. Dan pada akhirnya lebaran telah tiba, sedangkan kita masih terjebak pada pemujaan sikap materialistik yang serba anyar dalam wujud yang tidak lebih dari artifisial semu.

Kali ini, pertanyaan Kant layak untuk kita kemukakan dan renungkan kembali : Wass heiβt Aüfklarung?, “Apa itu pencerahan?”. Lalu memodifikasinya dengan “Apa itu kemenangan?”.

Penulis: Glamora Lionda (Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam-HMI).

print

Iklan Banunanda Nias Iklan Aceh

Berita Populer

To Top