Leaderboard
Opini

Opini, Ilmu, dan Moment Politik

Moment Politik

TANGERANG SELATAN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Sejauh mana kita tahu bahwa sesuatu adalah sebuah opini? Sejauh mana kita mengetahui bahwa sesuatu adalah ilmu pengetahuan?. Dan sejauh mana kita dapat mengetahui perbedaan keduanya?. Atau bahkan bukan keduanya namun serupa? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat pikiran penulis menjadi bergemuruh untuk menulis beberapa bagian-bagian penting mengenai hal-hal tersebut.

Belum lagi, terkadang opini kerap menjelma sebagai suatu yang teruji menyerupai ilmu pengetahuan, pada moment-moment politik— tentunya fenomena seperti demikian kerap terjadi. Pada moment tersebut opini ibarat sebuat alat yang mampu mempengaruhi paradigma sebagian orang, sekalipun pandangan itu ternyata salah dan hanya memanfaatkan ruang-ruang untuk mendiskreditkan lawan politiknya.

Setelah membaca artikel yang ditulis oleh Dede Mulyanto di Indoprogress.com yang berjudul ilmu dan opini, penulis cukup terkagum bahwa inilah cara yang tepat untuk menjelaskan kedua konsep tersebut secara sederhana. Agar dapat berfikir logis dan menelaah dua konsep yang kerap muncul ketika moment-moment politik.

Pertama, Dede Mulyanto mengungkapkan bahwa bolehlah kita kita sebut opini itu sebagai buah pikiran bersahaja, buah kesan-kesan indarawi atas realitas. Sementara itu ilmu adalah buah pikiran yang lebih pelik karena selain menyertakan kesan-kesan indrawi, kesan-kesan itu diperoleh melalui cara-cara yang sistematis, terukur, dan melibatkan mata batin untuk tidak sekedar pasrah kepada godaan kesan-kesan itu.

Ia juga mengatakan bahwa, meski demikian, perbedaan taraf antara ilmu dan opini itu krusial, karena jarak antara buah pikiran dan realitas dipertaruhkan dan begitupun soal kebenarannya. Kedua, ia juga menganalogikan perdebatan yang menyertakan antara ilmu dan opini dengan membandingkan rasionalitas dan dampak dari celakanya opini yang tidak ditelaah bahkan tidak didasari oleh ilmu.

Baca Juga  Diskominfo : Pelatihan KIM untuk Memanfaatkan TIK Secara Tepat

Tetapi, dalam tulisan ini penulis ingin memberikan analogi yang berbeda mengenai dua konsep tersebut, tentu saja mencoba menjelaskannya melalui konteks moment politik.

Sejauh kita ketahui, moment politik bagi sekelompok orang yang aktif berorganisasi adalah hal yang biasa, apalagi jika itu terjadi di kalangan para mahasiswa. Namun sialnya, dalam moment politik bahkan yang lingkupnya sangat sempit; terkadang masih ada sebagian dari mereka yang tidak siap secara paradigma berbenturan dengan pemahaman yang berbeda.

Mari kita lebih mengerucutkan pembahasan ini kepada “politik identitas”, tidak melulu menempatkan politik identias sebagai suatu terminology yang muncul ketika dua kubu yang berbeda secara agama, suku, dan ideologi melakukan kontestasi dalam moment politik, tetapi justru lebih kompleks dari hal itu, yakni tentang pro kontra budaya patriarki dalam moment politik.

Sebagian orang menyebutkan melalui landasan agama secara tendensius mengatakan bahwa perempuan dalam Islam “kurang tepat dan kurang cocok” dibanding laki-laki jika menjadi pemimpin, bukan tanpa landasan; pandangan ini juga turut menyertakan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan tafsir sebagai landasannya.

Sebagian lain mengatakan bahwa perempuan dalam Islam dianggap “tepat dan cocok” menjadi seorang pemimpin, pandangan ini juga turut menyertakan dalil-dalil dan tafsir yang menjadi landasannya. Maka dalam konteks ini telah terjadi benturan diskursus, yang melibatkan dua pandangan dan pemahaman berbeda tentang kepemimpinan.’

Lalu di mana opini dan ilmu pengetahuan mulai digunakan? Di titik ini sebenarnya opini telah digunakan dalam membangun diskursus pada derajat yang rendah, untuk mencapai titik opini; ilmu terlebih dulu digunakan, namun jika konteksnya “sekedar” dipahami secara umum maka opini akan terus mendominasi.

Pembentukan pemahaman seperti ini tidak memerlukan hal-hal yang sistematis dan terukur dalam arti yang sesungguhnya; hanya memerlukan perihal (dalam menakar kebenaran) mayoritas dan minoritas, misalnya, dalam budaya patriarki yang masih kental di Indonesia, yangmana superioritas laki-laki terhadap perempuan belum seutuhnya hilang.

Baca Juga  BNN PERIKSA TEST URINE PULUHAN KARYAWAN PT TIRTA KENCANA CAHAYA MANDIRI

Ide tentang membangun pemahaman seperti ini, meminjam pendekatan psikoanalisis Jacques Lacan (1953), yaitu, konsep tatanan simbolik untuk memetakan “ketidaksadaran” manusia. Tatanan simbolik yang dimaksud adalah struktur penandaan atau bahasa. Ide tentang “ketidaksadaran” manusia dan bahasa cukup terkenal dalam ungkapan Lacan yang mengatakan bahwa “ketidaksadaran” itu terstruktur seperti bahasa, karena ketidaksadaran merupakan wilayah hasrat manusia, dan hasrat selalu merupakan hasrat orang lain yang diinternalisasikan kedalam diri orang lain melalui, nasihat, sindiran, ekspektasi dengan katalain yang lebih umum itu semua adalah bahasa.

Dalam pembahasan ini “bahasa” disampaikan melalui medium tulisan di media sosial (whatsapp, twitter, facebook, instagram, dsb).

Di tingkat opini apa yang disebut Lacan sebagai internalisasi hasrat melalui bahasa menjerat ketidaksadaran manusia, termasuk budaya patriarki yang tedapat dalam berbagai hal, salah satunya dalam moment politik – manusia yang ditempatkan sebagai objek oleh manusia lain yang menginternalisasikan hasratnya melalui struktur simbol (bahasa) mampu membawa pemahaman superioritas laki-laki terhadap perempuan semakin menjadi-jadi.

Lebih fatal lagi, tidak seimbangnya asupan ilmu yang dipelajari dengan opini yang dikonsumsi, sehingga pemahaman tentang kesetaraan gender-pun seakan menjadi tidak penting karena “ketidaksadaran” manusia.

Belum lagi aspek-aspek lain yang juga muncul dalam moment politik diluar apa yang menjadi pembahasan utama tulisan ini mampu menjadi objek yang dianggap “paten” untuk diinternalisasikan melalui opini.

Sebenarnya perdebatan antara ilmu dan opini ialah perdebatan klasik, ilmu pengetahuan hadir sebagai suatu metode penyelidikan ilmiah yang bahkan sering kali hadir sebagai perlawanan terhadap opini umum. Dede Mulyanto mengatakan bahwa, “metode ilmiah bukanlah konsekuensi logis dari metode opini.

Alih-alih ilmu ialah antitesisnya. Sementara ilmu memperpendek jarak antara buah pikiran dan realitas dengan jalan yang panjang, sedangkan opini memperpanjang jarak keduanya dengan cara yang pendek”. Artinya, cara yang panjang memberikan kita ruang untuk mengujinya terus menerus, sedangkan sebaliknya cara yang pendek membuat kita hanya mengukuhkan “ketidaksadaran”.

Ilmu dan opini senantiasa menempati ruang-ruang sosial tertentu, namun keduanya juga kerap bertemu dalam ruang yang terkadang mampu membuat suatu bentruan pemahaman, oleh karenanya sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Dede Mulyanto bahwa “perjuangan ilmu tidak pernah sepi dari tindasan ketika melawan opini” Scientia Unes Camus!

Baca Juga  Tewasnya Karyawan PT. Dewa Citra Sejati, Pihak Perusahaan Masih Saja Bungkam

Oleh: Adam Alvian

Penulis ialah Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang, dan Kader HmI Komisariat Pamulang Cabang Ciputat

print
Iklan Banunanda Nias Iklan Aceh

Berita Populer

To Top