Pendidikan

Ketua PGRI Kabupaten Tangerang: PGRI Nyebrang ke Kotak Kosong? Bisa Terjadi

PGRI

TANGERANG, IGLOBALNEWS.CO.ID – Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer yang memang harus lebih diprioritaskan. Hal ini demi terciptanya Sumber Daya Manusia yang mumpuni dan mampu bersaing di segala aspek kehidupan.

Demikian dikatakan Ketua PGRI Kabupaten Tangerang Kosrudin di ruang kerjanya, Senin (16/04/18).

Sejumlah kalangan menilai, sejak dihapusnya pemakaian Batik PGRI sebagai simbol keberadaan organisasi yang membawahi para tenaga pendidik, khususnya di Kabupaten Tangerang ini merupakan langkah yang kurang tepat.

Ada sinyalemen bahwa kepengurusan serta keberadaan PGRI di Kabupaten Tangerang itu akan terhapus dengan sendirinya.

“Adanya dugaan bahwa para tenaga pendidik di kabupaten ini akan nyebrang ke kotak kosong bisa terjadi. Kami, para tenaga pendidik kecewa dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah kita ini. Yang pastinya melalui dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan kita”, ungkap Kosrudin.

Kosrudin juga menjelaskan terkait adanya Pena ungu. “Pihak PGRI dalam hal ini para tenaga pendidik yang jelas-jelas secara keilmuannya sesuai dengan Job Descriptionnya merasa kecewa, karena kami para guru, baik honor maupun bukan merasa diberi harapan palsu.”

“Katanya, guru-guru honorer serta Guru Bantu Sekolah (GBS) akan diangkat menjadi tenaga tetap. Dalam artian mempunyai status kepegawaiannya yang jelas. Tetapi, nyatanya mana? Terkesan digembosin, malah pena ungu yang dikedepankan”, ungkap Kosrudin.

Hal senada dikatakan SB. Menurutnya, Kadis Pendidikan yang sekarang menjabat terkesan acuh serta ada unsur ‘pembiaran‘ terhadap nasib para tenaga honorer.

“Bahwa ada rumor akan ditunda pengangkatan para GBS termasuk dibekukan status mereka yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Tamgerang ini,” Kata pria yang juga mengaku sebagai aktivis pada sebuah lembaga swadaya masyarakat yang cukup punya nama ini (ICW-red).

Baca Juga  Polisi Pengedar Narkoba Kembali Disidangkan

“Pa Haditsya saya tau betul, dia itu bukan orang yang paham tentang pendidikan. Hal ini terlihat dengan pola dan cara dia memimpin OPD pendidikan. Mana gebrakannya? yang terlihat stagnan, bahwa lebih mengarah kepada profit kegiatan. Seperti pengadaan barang dan jasa, dan itu ada datanya pada kami”, ungkapnya.

Pria kelahiran Curug itu lebih lanjut menjelaskan bahwa menurutnya, jika demikian ada kemungkinan pihaknya atau para tenaga pendidik ada kemungkinan akan loncat ke Bumbung Kosong.

“Karena bentuk ketidakpedulian pemerintah daerah kita ini, melalui dinas terkait terhadap para tenaga honorer yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan ini. Mau dibawa kemana dunia pendidikan di kabupaten ini?”, tandasnya.

Peliput: Ard.

align center alterntif text

Berita Populer

To Top