Leaderboard
Opini

Perempuan Dalam Budaya Tradisi Lokal

Perempuan Dalam Budaya Tradisi Lokal

Oleh :
Eva Nurcahyani

TANGERANG SELATAN, IGLOBALNEWS.CO.ID – Pemberitahuan mengenai tatanan keadilan dalam pranata sosial yaitu kesetaraan antara laki- laki dan perempuan marak diperbincangkan. Sejatinya hanya kaum-kaum tertentu yang tahu akan tatanan keadilan dalam pranata sosial atau yang biasa disebut dengan kesetaraan gender, di antaranya yaitu kaum-kaum yang dikategorikan sebagai kaum intelek.

Berbicara mengenai kesetaraan gender, di Indonesia sendiri merupakan persoalan sensitif yang senantiasa menjadi perbincangan melintasi parUh klimaks peradaban yang semakin menjulang. Mengapa masih dikatakan persoalan sensitif? Dikarenakan masih banyak perbincangan publik di mana ketika pembagian peran kesetaraan gender tersebut yang tidak proporsional dan dehumanitas.

Perbincangan ini bermula dari konstruk yang tidak berimbang dari berbagai komponen kehidupan, yaitu di antaranya ajaran agama, budaya dan politik. Di mana tiga sisi kehidupan ini seringkali dianggap sebagai titik merembesnya bias gender yang kemudian mengalienasi perempuan dalam ruang geraknya yang berkaitan dengan peran serta kebebasannya.

Karena sejatinya, kesetaraan gender ini merupakan tingkat tertinggi dari kesadaran kaum perempuan terhadap hak-haknya. Akan tetapi pemenuhan hak bagi setiap individu merupakan keniscayaan. Oleh karena itu hal yang sangat wajar jika pembahasan mengenai kesetaran gender ini merupakan sebuah tekanan baik dalam politik, budaya maupun agama.

Namun, kewajaran tersebut menjadi sebuah perbincangan panjang karena setiap khalayak memiliki pola pandang yang beragam.

Adanya tekanan-tekanan dalam beberapa unsur di antaranya budaya yang menjadikan kaum-kaum perempuan dalam suku lokal jauh dari kesetaraan, masih banyak perempuan dalam tradisi lokal yang memeluk erat tradisi- tradisi lokal yang memang jauh dari yang namanya kesetaraan gender.

Di mana di dalamnya persoalan mengenai perkawinan, ekonomi, pendidikan dan politik. Karena kurangnya rembesan pengetahuan mengenai kesetaraan gender dari luar. Seperti misalnya peran perempuan Dayak Kalimantan Tengah yang masih tertinggal dibanding peran laki- laki.

Baca Juga  Ketua MK dilaporkan ke Dewan Etik (Lagi)

Dalam budaya Dayak, perempuan hanya sebatas subordinatif bagi kaum laki-laki, di mana warga Dayak ini masih berpikiran bahwa perempuan hanya sebagai harta dan warisan kaum laki-laki. Perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan pun dibedakan. Misalnya dari segi pendidikan bagi anak laki-laki yaitu berada di bagian ngaju dan untuk perempuan berada di bagian ngawa yaitu laki-laki berhak menerima pendidikan setinggi- tingginya sedangkan perempuan tidak.

Tradisi dan budaya seperti ini sejak awal sudah membentuk watak dan karakter orang Dayak, sehingga sulit rasanya bagi perempuan untuk paling tidak duduk dan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki apalagi berada di depan laki-laki.

Khairul Hasni, MA seorang Direktur Jaringan Perempuan untuk Keadilan Lhokseumawe pun mengatakan secara umum, budaya masyarakat di dunia menempatkan laki-laki pada hierarki teratas. Sedangkan perempuan menjadi nomor dua.

Begitu pun Edward B. Taylor mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks di mana perempuan masih dinomor-duakan. Kondisi ini menjadi bagian dari hidup perempuan dan laki-laki yang disosialisasikan secara turun temurun, hingga pada masa sekarang perempuan masih menjadi kaum yang termarjinalkan.

Menurut saya peran perempuan sangat rendah dan sulit maju dalam tradisi serta kepercayaan-kepercayaan lokal di Indonesia. Suku lokal merupakan suku asli yang sangat berpegang teguh pada nilai serta ajaran nenek moyang yang masih primitif karena pada dasarnya mereka tidak mau menerima unsur modernisasi yang ada dalam kesetaraan gender.

Sebuah dorongan untuk kita semua, berada dalam kebudayaan lokal yang beragam dan dalam peradaban yang modern ini, mana fokus utama yang harus kita prioritaskan. Antara budaya yang mendiskreditkan perempuan atau esetaraam gender yang mengutamakan kemajuan kaum perempuan, ini merupakan bahan renungan untuk kita terutama perempuan.

Baca Juga  Komunitas Peduli Bangsaku

Editor: Juno

print

Iklan Banunanda Nias Iklan Aceh

Berita Populer

To Top