alterntif text
Jakarta

“I Only Know That I Know Nothing” Versus Setya Novanto Case

Setya Novanto Case

Jakarta-iGlobalNews

Oleh : Yanes Yosua Frans
(Relawan Jokowi )

Pada saat anda belum tahu apa-apa itu karena pengetahuanmu tentang apa-apa itu belum ada. Dan tatkala anda sudah tahu apa apa disitulah permulaan untuk mengetahui bahwa anda sebenarnya akan tidak tahu apa apa karena terlalu banyak apa apa yang tak mungkin Anda tahu.

Saya menduga Socrates berpikir seperti pernyataan saya diatas, sehingga dia berkesimpulan bahwa : “Saya Hanya Tahu Bahwa Saya Tidak Tahu Apa-apa”

Apakah itu artinya, ilmuan pun dianggap tidak tahu apa-apa padahal pengetahuannya tentang sesuatu hal sudah sangat baik dan benar?

Ilmuan kan hanya mengetahui “Sedikit Apa Ada” dari “Banyaknya Apa apa” yang ada.

Tidak ada ilmuan yang Maha Tahu karena : “Omni Science” atau Maha Tahu hanya milik Tuhan, sekalipun ada yang berteori bahwa : Manusia adalah Tuhan dalam skala miniatur.

Kesimpulan saya adalah Ilmuan pun dianggap tidak tahu apa-apa, karena mereka hanya tahu tentang sedikit apa apa dari tak terhingga apa apa yang ada dalam realitas.

Begitu juga dengan Setya Novanto.
Dia tidak pernah tahu bahwa kegemilangan yang dia miliki berakhir dengan sangat tidak menyenangkan.
Dia pikir “Kekuasaan” yang dia miliki akan menakutkan orang lain untuk mencoba melawan kejahatan yang dia lakukan.

Setya Novanto pikir bahwa dia sudah jadi “Politikus” handal padahal pada hakekatnya dia sebenarnya tidak tahu apa apa.

Barangkali Setya Novanto sementara belajar dari pernyataan “Failure is Not Misfortune” (Kegagalan bukanlah nasib buruk, melainkan pengingat untuk bertrospeksi diri”, sehingga barangkali dia yakin setelah keluar dari bui, dia akan berpolitik lagi secara lain. Dia lupa bahwa secara politis “dia sudah habis atau selesai” karena kasus yang menjerat dia adalah kasus korupsi hal mana beda dengan kasus Ahok.

Baca Juga  PENCEMARAN CAIRAN INDUSTRI DI LINGKUNGAN PEMUKIMAN

Justru Ahok akan tetap berkibar karena kasusnya bukan kasus korupsi.

Dengan demikian, janganlah takabur jadi mahluk yang memiliki kekuasaan karena itu hanya sementara dan silih berganti.

Setya Novanto agak lupa diri. Dia lupa bahwa dia nggak tahu apa apa. Dia hanya tahu sedikit tapi sok tahu sehingga menganggap biar korupsi, toh! tidak ada yang tahu dan jika ada yang tahu toh siapa ya berani dengan Ketua DPR RI dan Ketua Umum Partai Golkar?

Seharusnya pengalaman Para Koruptor yang menderita di BUI dipakai sebagai pedoman kepada Setya Novanto sehingga berhati hati dalam tindak tanduknya.
Bukankah istilah : “Experience is the best father of wisdom” ala Socrates masih relevan sampai saat ini.

Setya Novanto berpikir banyak kasus yang dia lakukan selalu lolos akan lolos terus, tenyata dia keliru karena dia tidak tahu apa-apa.

Saya bangga karena di era Jokowi, KPK dan Kepolisian bekerja sama dengan baik dalam melaksanakn : “Law Enforcement” via kasus korupsi e-KTP yang dilakukan oleh Setya Novanto yang notabene Ketua DPRRI dan Ketum Golkar.

Kedepan efek jera via Setya Novanto, case ini akan ada yakni pejabat mulai takut korupsi.

Terakhir, jika anda mulai “over self confidence”, ingatlah bahwa anda sebenarnya tidak tahu apa apa dan lebih baik bagimu mengadopsi adagium ini “It Is Wise To Be Important But It Is More Important To Be Wise”.

Editor: Danny

zvr
Reaksi Anda

Comments

comments

To Top